Mulailah mengetik pada pencarian di atas dan tekan tombol kaca pembesar untuk mencari.

Empat Arahan Kepala BNPB untuk Percepatan Pemulihan Pascabencana Banjir di Sumatra Selatan

Dilihat 752 kali
Empat Arahan Kepala BNPB untuk Percepatan Pemulihan Pascabencana Banjir di Sumatra Selatan

Foto : Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto menyerahkan bantuan logistik dan peralatan kepada warga terdampak bencana banjir di Desa Mendingin, Kecamatan Ulu Ogan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Selasa (28/5). (Bidang Komunikasi Kebencanaan / Fhirlian Rizqi Utama)

PALEMBANG -  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong percepatan penanganan darurat setelah bencana banjir dan longsor melanda tiga daerah di Sumatra Selatan. Ketiga daerah tersebut di antaranya Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, dan Kabupaten Muara Enim. 

Hal tersebut dinyatakan oleh Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto setelah melakukan kunjungan kerja ke Desa Mendingin, Kecamatan Ulu Ogan, Kabupaten OKU, pada Selasa (28/5) yang menjadi salah satu daerah terdampak dari banjir. Selain meninjau lokasi terdampak, Kepala BNPB juga menyerahkan secara simbolis bantuan kepada warga setempat guna mendukung pemenuhan kebutuhan dasar mereka. 

Setelah melakukan peninjauan, Kepala BNPB kemudian memimpin rapat koordinasi penanganan darurat bencana banjir dan longsor di Pendopo Rumah Dinas Bupati OKU bersama Pj. Bupati OKU dan seluruh unsur forkopimda Provinsi Sumatra Selatan, Kabupaten OKU, Kabupaten OKU Selatan, dan Kabupaten Muara Enim. 

Pada rapat koordinasi tersebut, Kepala BNPB menekankan empat langkah penganan banjir dan longsor yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Langkah pertama, yakni pengkajian lebih dalam penyebab banjir yang terjadi di bagian hulu sungai Ogan, sebab lazimnya banjir karena aliran sungai seringkali terjadi di bagian hilir. 

Untuk itu, Kepala BNPB akan berkoordinasi dengan instansi terkait yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), serta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) guna melakukan kajian terhadap hal tersebut. 

"Dengan adanya banjir di hulu kita sepakat buat tim gabungan saya juga akan koordinasi untuk melihat sebetulnya ada apa di atas itu sehingga terjadi banjir apakah ada penyumbatan atau kerusakan lingkungan, ini yang harus kita lakukan," kata Suharyanto usai memimpin rapat koordinasi.

Seiring dengan langkah tersebut, pihaknya juga mendorong seluruh unsur pemerintahan di daerah setempat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan masyarakat menyusul potensi cuaca ekstrem yang masih menyelimuti wilayah Sumatra Selatan, khususnya di Kabupaten OKU. 

"Kita juga akan coba lakukan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) bersama BMKG kalau ternyata curah hujannya ekstrem kita lakukan TMC supaya kalau hujan pun tidak terjadi banjir dan kalau terjadi hujan masyarakat di sepanjang sungai harus mengungsi ke tempat yang lebih aman," tambah Suharyanto. 

Langkah kedua sebagai upaya percepatan penanganan, Kepala BNPB menyoroti pemenuhan hak dasar para korban terdampak banjir yang harus segera dipenuhi terutama para keluarga korban jiwa yang meninggal dunia dan warga yang masih mengungsi mandiri di rumah keluarganya. 

"Kemudian langkah kedua, terkait orang yang terdampak. Ini ada korban jiwa, terkait hak kepada para ahli waris untuk dipenuhi dan kami mendapat laporan masih ada yang mengungsi di rumah saudaranya yang masih membutuhkan, maka logistiknya harus dipenuhi jangan sampai pascabencana mereka menderita," terang Suharyanto. 

Suharyanto melanjutkan, untuk langkah ketiga yakni berkaitan dengan pemulihan infrastruktur. Pemerintah daerah didorong untuk melakukan percepatan dalam pendataan rumah warga yang mengalami rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan serta fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) yang rusak. 

"Ini kan ada rumah yang hanyut, rusak berat, sedang, dan ringan ini ada mekanismenya apakah relokasi atau diperbaiki, ini segera di data dan prioritaskan yang betul-betul menyentuh kehidupan masyarakat. Misalnya ada jembatan yang rusak dan harus segera diperbaiki," ujar Suharyanto.

Kemudian, langkah keempat Suharyanto menerangkan agar pemerintah mulai menyiapkan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak. "Setelah kondisi mulai normal, mulai disiapkan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi karena ada akses hibah rehab dan rekon untuk membangun dan memperbaiki infrastrukur sebagai upaya pencegahan agar di waktu mendatang kejadian ini tidak terulang lagi," terangnya. 

Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPB juga menyerahkan dukungan berupa Dana Siap Pakai (DSP) kepada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) senilai 250 juta rupiah, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) senilai 250 juta rupiah, dan Pemerintah Kabupaten Muara Enim sebesar 200 juta rupiah serta dukungan logistik peralatan penanganan darurat kepada Kodim 0403/OKU dan Polres OKU. 

Di samping itu, diserahkan juga dukungan logistik dan peralatan kepada pemerintah daerah berupa makanan siap saji 300 paket, sembako 300 paket, hygiene kit 300 paket, family kit 300 paket, selimut 300 lembar, matras 300 lembar, kasur lipat 100 unit, velbed 50 unit, tenda keluarga 30 unit, tenda pengungsi 2 unit, perahu karet dan mesin 1 unit, genset 2 unit, light tower 2 unit, penjernih air portable 10 unit, pompa alkon 5 unit dan pompa apung 5 unit. 

Sementara itu, kondisi mutakhir dari laporan yang dihimpun oleh BNPB, untuk wilayah OKU bagian hulu seperti kecamatan Lengkiti, Sosoh Buay, Rayap, Kota Baturaja, Lubuk Batang, Peninjauan, kedaton Peninjauan Raya terpantau banjir telah surut dan menuju fase pemulihan. Sedangkan untuk OKU wilayah hilir seperti sebagian wilayah Kedaton Peninjauan Raya masih terdapat genangan dengan tinggi muka air kurang lebih 30 sentimeter dan diperkirakan akan surut dalam 1-2 hari kedepan.

Saat ini tim gabungan bersama masyarakat masih terus berupaya membersihkan lumpur dan tanah yang berasal dari sisa banjir. Selain itu, BNPB juga merangkum rumah yang terdampak ada sebanyak 12.909 unit dimana 110 rumah mengalami rusak berat dan 12 rusak sedang. Selain itu sebanyak 41 fasilitas ibadah serta 15 gedung fasilitas umum milik pemerintah, 43 perternakan, 23 jembatan, 141 toko/warung, 118 hektar lahan pertanian/perkebungan dan lainnya turut terdampak oleh bencana yang dipicu oleh faktor cuaca itu.

Dari sekian banyak rumah terdampak itu ada 55.879 warga yang terdampak, dimana 12.849 jiwa mengungsi. Hingga siaran pers ini diturunkan, seluruh warga pengungsi itu telah berangsur kembali ke rumah mereka masing-masing kecuali tujuh kepala keluarga yang rumahnya rusak berat atau hanyut oleh banjir. 



Abdul Muhari, Ph.D. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Penulis

Admin


BAGIKAN