Wartawan Kalbar Tingkatkan Kapasitas Liput Bencana

KUBU RAYA – Kapasitas wartawan dalam konteks peliputan bencana sangat penting melekat pada diri mereka. Ini tidak hanya terkait dengan keselamatan wartawan itu sendiri, tetapi juga bagaimana mereka mampu melakukan peliputan tidak hanya dari sisi kejadian bencana, seperti jumlah warga dan wilayah terdampak atau kesedihan para korban tetapi juga pra bencana dan pascabencana.

Pada konteks pra bencana, liputan mitigasi belum mendapatkan porsi yang besar di media massa. Menurut Praktisi Media Dandhy Laksono, wartawan juga perlu untuk mengangkat mitigasi seperti menggali kearifan lokal, melek dan sosialisasi teknologi, kilas balik kasus-kasus dan sebagainya.

“Masyarakat Simeulue memiliki kata ‘smog’ untuk menjelaskan tsunami,” kata Dandhy sebagai narasumber dalam penjelasan kearifan lokal yang dapat digali oleh rekan-rekan wartawan sebagai bahan berita.

Sementara itu, "Selama mengikuti kegiatan ini, banyak sekali pelajaran yang saya peroleh. Bukan hanya sekedar dalam membuat berita tetapi tentang bagaimana saya ikut berpartisipasi dalam menangani korban bencana, “ ucap Rizal, peserta dari wartawan TVOne.

Forum Komunikasi Wartawan Provinsi Kalimantan Barat yang berlangsung pada 23 – 25 Agustus 2016 ini dibuka oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei pada Selasa (24/8) di Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar).

“Rekan-rekan wartawan adalah salah satu mitra yang sangat strategis,” kata Willem dalam sambutan pembukaan yang bertema ‘Wartawan Siap Liput Bencana’.

Willem menambahkan bahwa media massa mampu mempengaruhi keputusan politik, mempengaruhi masyarakat dan menyelamatkan jiwa masyarakat, seperti dikutip dari catatan UNISDR, sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bergerak di bidang pengurangan risiko bencana.

Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melaporkan bahwa kegiatan Forum Komunikasi Wartawan ini bertujuan berbagi pengetahuan dan pengalaman penanggulangan bencana yang membantu wartawan dalam peliputan berita bencana.

Di samping itu, Sutopo menyampaikan, “Memberikan keterampilan dasar dalam penanggulangan bencana seperti penggunaan GPS, pertolongan pertama dan dapur umum.

Rizal mengapresiasi kepada seluruh personel BNPB, BPBD, PMI dan Basarnas yang selama ini begitu sabar dan profesional dalam memanusiakan manusia.   Forum Komunikasi Wartawan yang berlangsung di dalam dan luar ruang dihadiri 29 peserta dari media massa cetak, televisi, radio dan online. Sementara itu, narasumber berasal dari BNPB, BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Basarnas, Palang Merah Indonesia, Tagana, dan praktisi media.

“Hari kedua, peserta berpraktek seperti pendirian tenda, operasional dapur umum, water rescue, pertolongan pertama dan trauma healing,” ujar Tamora Nainggolan, panitia kegiatan dari Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB. (phi)

Related posts