Peringatan Tsunami Berakhir, Warga Kembali ke Rumah Pascagempa M 7.0

JAKARTA – Warga pesisir di wilayah Maluku Utara (Malut) telah kembali ke rumah masing-masing sekitar pukul 03.00 waktu setempat (WIT) hari ini, Senin (8/7). Mereka kembali setelah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengakhiri peringatan tsunami. 

Sementara itu sebagian warga lain masih dilaporkan mengungsi di daerah ketinggian. Pantauan tim di Lapangan MDMC Malut, Basarnas, BPBD Malut, Polres, dan Polsek setempat warga masih berada di tempat pengungsian sementara di daerah ketinggian di kelurahan Moya, Ngidi, Tanah Tinggi, Tubo, Foramadiahi dan kelurahan lain. 

Komandan Korem 152/Babullah Kolonel Infantri Endro Satoto menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan wilayah yang berpotensi tsunami berdasarkan pemodelan BMKG. Sebelumnya, wilayah Halmahera, Kota Ternate dan Kota Tidore di Provinsi Maluku Utara dinyatakan status peringatan 'Waspada.'

"Pukul 01.00 WIT masyarakat pesisir atau wilayah dekat pantai mengungsi untuk mengamankan diri ke tempat dataran tinggi karena adanya peringatan tsunami dari BMKG dengan membawa perlengkapan yang ada," ujar Endro.

Endro mengatakan bahwa hasil pengecekan dari tadi malam (7/7) hingga saat ini belum ditemukan kerugian personel maupun materiil yang disebabkan oleh kejadian tersebut. "Pemerintah daerah beserta instansi terkait memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap waspada guna mengantisipasi perkembangan situasi yang ada," tambahnya.

Sebelumnya diinformasikan bahwa pascagempa, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami berdasarkan pemodelan matematis terhadap ancaman tsunami dengan status ‘Waspada.’ Status tersebut ditujukan untuk wilayah Minahasa bagian selatan dan Minahasa Utara bagian selatan, Provinsi Sulawesi Utara. BMKG juga memonitor perkembangan gempa susulan dan tinggi muka air air laut yang terdapat di enam stasiun pasang surut (Bitung, Tobelo, Ternate, Taliabu, Jailolo, dan Xanana). 

Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bitung, gempa dirasakan sedang selama 3 – 5 detik. Masyarakat dilaporkan dalam kondisi panik dan mulai mengungsi ke dataran tinggi. Masyarakat yang tinggal di wilayah pantai (sekitar 7 desa) sudah mengungsi ke lokasi pengungsian, yang lokasinya lebih tinggi dan berjarak sekitar 2 km, seperti di gereja Nafiri dan masjid Agung di Desa Kolomba. Air di sepanjang pantai terpantau surut. BMKG telah menginformasikan potensi tsunami dengan status ‘Siaga.’ Demikian juga kondisi di Kabupaten Halmahera Barat dilaporkan oleh BPBD setempat bahwa gempa juga dirasakan salama 3 – 5 detik. 

Sementara itu BPBD Kota Ternate melaporkan gempa dirasakan kuat dan masyarakat panik hingga berhamburan ke luar rumah. Masyarakat tampak lalu Lalang dan mencari tempat aman ke arah dataran yang lebih tinggi. Di sisi lain, jaringan telekomunikasi masih lancar. BPBD setempat melalui tim reaksi cepat (TRC) masih mengumpulkan informasi dampak gempa dan memenangkan masyarakat. 

Di Kota Manado, masyarakat merasakan kuatnya guncangan selama 3 – 5 detik. Mereka panik hingga ke luar rumah. Namun demikian kondisi saat ini sudah kondusif. Terkait dengan foto kerusakan yang beredar di media sosial, BPBD setempat belum dapat memastikan kebenaran inforamsi tersebut. 

Sedangkan kondisi di Kabupaten Minahasa Utara, BPBD melaporkan gempa terasa kuat sekitar 5 detik. Ini membuat masyarakat panik, berhamburan dan menuju ke tempat yang lebih tinggi. Namun, kondisi masyarakat saat ini sudah kondusif karena BMKG setempat telah menginfokan bahwa statusnya telah 'waspada.'

BMKG memutakhirkan parameter gempa dengan magnitudo 7.0 terjadi di wilayah Provinsi Maluku Utara. Gempa tersebut terjadi pada Minggu (7/7) pukul 20:08:42 WIB dengan kedalaman 49 km dengan lokasi 133 km barat daya Ternate, Maluku Utara. 

Related posts