Uji Publik Kurikulum dan Modul Srikandi Siaga Bencana untuk Membangun Ketangguhan Keluarga dan Masyarakat

Pangkalpinang - Berbagai ancaman bencana, baik disebabkan faktor alam maupun nonalam saat ini masih mengintai Indonesia. Ada kecenderungan peningkatan jumlah kejadian bencana dari tahun ke tahun. Tahun 2016 tercatat 1.985 kejadian, pada 2017 menjadi 2.341 kejadian, dan Tahun 2018 terus meningkat menjadi 2.426 kejadian. Dari jumlah tersebut, 97% kejadian bencana merupakan bencana hidrometeorologi. 

Peningkatan tren bencana sesungguhnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Secara global, dalam tiga dekade berselang, jumlah bencana dilaporkan meningkat sekitar 350%. Selama tahun 2000-2018, rata-rata kerugian ekonomi global akibat bencana mencapai US$111 miliar. Bukan hanya negara berkembang, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Selandia Baru juga mengalami bencana dengan korban dan kerugian sangat besar. Ini membuktikan tidak ada negara di dunia yang betul-betul bebas dari ancaman bencana. 

Di masa mendatang, ancaman bencana akan semakin meningkat disebabkan meningkatnya kerentanan, antara lain akibat perubahan iklim global, penurunan kualitas lingkungan, kondisi geografis, kemiskinan, rendahnya tingkat kesiapan masyarakat, pendidikan rendah, urbanisasi, dan pertumbuhan penduduk. Sebanyak 218.2 juta rakyat kita tinggal di daerah rawan bencana, mulai dari gempabumi, tsunami, banjir, tanah longsor, serta kebakaran hutan dan lahan. 

Keterlibatan kaum perempuan terutama peran para ibu dalam membangun ketangguhan keluarga dalam menghadapi situasi darurat bencana lebih digalakan. Saat bencana kaum ibulah yang paling rentan terkena dampak karena selain harus menyelamatkan dirinya sendiri, seorang ibu juga harus berpikir akan keselamatan anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Dampak negatif ketika terjadi bencana diharapkan dapat ditekan melalui peningkatan peran perempuan. Rangkaian kejadian bencana yang terjadi di beberapa negara menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak berisiko meninggal 14x lebih besar dari pria dewasa (Peterson, 2007). Pada kejadian Cyclone di Bangladesh pada 1991 yang berdampak pada korban jiwa dimana 90% dari korban tersebut adalah perempuan (Ikeda, 1995), badai Katrina di USA menunjukkan bahwa sebagian besar korban adalah ibu-ibu Afro American beserta anaknya, dan pada kejadian Tsunami Aceh 2004 banyak ibu yang meninggal bersama dengan anaknya. 

Meski pada beberapa kejadian bencana menunjukkan bahwa perempuan memiliki kerentanan yang lebih besar, namun di sisi lainnya perempuan memiliki peran yang strategis dalam penanggulangan bencana, khususnya dalam membangun kesiapsiagaan bencana di tingkat keluarga. Perempuan dalam hal kebencanaan, yakni sebagai orang paling terdampak ketika terjadi bencana namun juga memiliki peran yang sangat penting dalam menyelamatkan keluarga dan mendidik anak-anak tentang kebencanaan. Peran perempuan sangat efektif dalam mentransfer pengetahuannya terhadap generasi berikutnya. Perempuan bisa memberikan usulan terhadap perubahan untuk pengurangan risiko bencana dan memperkuat ketahanan komunitas. Sehubungan dengan hal tersebut maka BNPB akan melaksanakan kegiatan Pelatihan untuk kaum perempuan dalam bentuk kegiatan  Srikandi Siaga Bencana dengan tema besar yang diusung yaitu “Perempuan Menjadi Guru Siaga Bencana, Rumah Menjadi Sekolahnya”.

Hari ini, 9 Oktober 2019 bertempat di PIA Hotel, Jl. Jendral Sudirman, Batin Tikal, Kec. Taman Sari, Kota Pangkal Pinang, Prov. Kepulauan Bangka Belitung, dilaksanakanlah Uji Publik Kurikulum Dan Modul Srikandi Siaga Bencana yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan BNPB dalam rangka menyongsong Puncak Peringatan Bulan Peringatan Risiko Bencana. Kegiatan Workshop Uji Publik yang dibuka oleh Plt. Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana, Bpk. Dr. Bagus Tjahjono, MPH didampingi oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Prov. Bangka Belitung - Dr. A. Fauzan Syahzian, S.Si., M.Env.M dan  Kepala SubBidang Kurikulum – Henrikus Adi Hernanto, S.S., M.Em.Mgmt ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas Wanita dalam penanggulangan bencana. Sasaran pelatihan dari Kurikulum dan Modul yang disusun ini nantinya akan dikhususkan bagi para Wanita dimana berperan vital untuk ketanguhan keluarga.

Dalam proses Uji Publik Kurikulum Dan Modul Srikandi Siaga Bencana, diharapkan peserta, yang terdiri dari 40 perwakilan BPBD Provinsi, Kabupaten dan Kota se Indonesia, dengan didukung juga oleh NGO baik Nasional dan Internasional, dapat saling berbagi pengalaman menangani bencana di daerahnya masing-masing, merefleksikan pengalaman itu, serta bersama-sama menarik berbagai pembelajaran melaluinya. Pada akhirnya, Uji Publik Kurikulum Dan Modul Srikandi Siaga Bencana dapat menjadi bekal untuk memperkuat kesiapsiagaan Keluarga di Indonesia di masa mendatang. 

 

Kita tidak ingin bencana kembali terjadi dan menelan banyak korban dan kerugian. Kita ingin menjadi lebih siap dan mampu mencegah jatuhnya korban dan menekan kerugian di berbagai bidang, termasuk ekonomi dan sosial. Mari, kita wujudkan Srikandi Tangguh Bencana! Keluarga-keluarga tangguh bencana, dan masyarakat Indonesia yang Siap dan Tangguh dalam menghadapi Bencana. (HAH)

Related posts