TTX Menghadapi Ancaman Bencana Gempabumi dan Tsunami

AMBON- Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB adakan TableTop  Exercise menghadapi ancaman bencana gempabumi dan Tsunami di hotel Natsepa, Suli Kab Maluku Tengah, pada (30/8) 2016. Dalam sambutannya Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Bernardus Wisnu Widjaja mengatakan, Sebagai negara yang rawan bencana akibat letak geografis dan tatanan tektonik yang sangat dinamis menyebabkan kita harus selalu waspada dan penuh kesiapsiagaan dalam menghadapi fenomena alam yang dapat merugikan kita yang dapat muncul setiap saat. “Bumi selalu bergolak karena pada dasarnya bumi ini hidup dan bergerak untuk mencapai keseimbangan baru untuk menjaga kestabilan. Proses alam yang normal seperti ini menjadi sangat berbahaya kalau kita tidak memahami karakteristik alam, kita tidak mampu menterjemahkan Bahasa alam/tanda-tanda alam ke dalam Bahasa manusia yang mudah dipahami. 

Ketidaktahuan akan fenomena atau proses alam atau sering disebut sebagai ancaman alam (istilah yang keliru/kurang tepat), hal inilah yang sering menimbulkan bencana. Jika kita bijak dalam menyikapi alam, kita akrab dan bersahabat dengan alam maka ancaman alam tersebut dapat kita manfaatkan menjadi sumberdaya alam atau berkah. Sekarang tinggal kita mau pilih yang mana antara berkah atau musiba. Proses alam yang sama bisa menghasilkan ancaman juga menghasilkan sumberdaya baik mineral tambang yang berharga atau pemandangan yang sangat indah yang bisa menarik wisatawan.

Cara pandang yang positif dalam melihat ancaman bencana di tanah air ini adalah melihat alam yang banyak tantangan dan bahaya ini sebagai laboratorium alam untuk bencana, bukan supermarket. Dengan berpandangan seperti ini maka kita harus memanfaatkan laboratorium ini untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membuat solusi menghadapi ancaman bencana yang pasti akan banyak yang membutuhkan. Segala sesuatu yang terjadi di alam ini selalu ada solusinya yang harus kita cari” ujar Wisnu.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Maluku Farida Salampessy mengatakan, berangkat dari kekhawatiran kita bersama bahwa ancaman bencana gempa bumi dan tsunami banyak dibahas untuk wilayah Sumatera dan Jawa. Kami yakin berdasarkan bukti-bukti kejadian masa lalu bahwa di Indonesia bagian Timur juga terdapat ancaman serupa tetapi karena data dan informasi ilmiah belum banyak terungkap maka seolah-olah daerah ini kurang ancamannya. Catatan sejarah kegempaan dan tsunami di Maluku menunjukkan bahwa pada tahun 1674 telah terjadi gempa dan diikuti tsunami yang telah menyebabkan ribuan korban jiwa di Pulau Ambon dan Pulau Seram, ujar Farida.

TTX adalah salah satu metode dalam pelatihan yang bertujuan untuk melakukan pendalaman dan klarifikasi serta verifikasi terhadap produk perencanaan kedaruratan yang kita miliki. Metode latihan ini menggunakan metode diskusi yang mendalam berdasarkan scenario permasalahan yang telah dirancang oleh Tim Perancang. Skenario yang dikembangkan adalah ancaman bencana gempabumi dan tsunami. 

Pelaksanaan kegiatan ini diikuti oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FORKOPINDA) Provinsi Maluku, Bupati Maluku Tengah, pejabat Walikota Ambon, sekretaris daerah Provinsi Maluku, Sekretaris kota Ambon, pimpinan SKPD Pemprov Maluku, Kabupaten Maluu Tengah, Kota Ambon dan 70 penelaah dari masing-masing instansi Pemerintah, TNI dan POLRI.

Kegiatan TTX Nasional Ambon/Maluku ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan pelatihan penanggulangan bencana yang telah diumumkan di tingkat regional dan global. Pada puncaknya nanti, pelatihan ini akan berupa latihan TTX Internasional yang diharapkan akan dihadiri negara-negara EAS (East Asia Summit/KTT negara2 Asia Timur) yang anggotanya terdiri dari ASEAN plus 8 mitra wicara (ASEAN, US, New Zealand, Australia, India, Korea, China, Jepang, Rusia). Mereka akan berlatih menggunakan metode TTX untuk merumuskan mekanisme regional penanganan bencana alam.

Pada akhir September, akan mengajak beberapa negara yang tergabung dalam Tim Perancang latihan TTX Internasional untuk melaksanakan Final Planning Conference di Ambon. Pada kesemapatan latihan internasional seperti ini maka kami berharap kita dapat memanfaatkan kehadiran mereka untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya serta keramah tamahan warga maluku

Dengan acara TTX ini diharapkan juga akan menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya penggalian informasi lebih lanjut melalui riset-riset ilmiah untuk lebih memahami karakteristik dari ancaman gempa bumi dan tsunami di Maluku untuk mendapatkan solusi-solusi dalam pengurangan risiko bencananya. Pada akhirnya pengetahuan ini dapat dimanfaatkan untuk merencanakan dan melaksanakan upaya-upaya strategis dalam melindungi masyarakat dari ancaman gempa bumi dan tsunami. (adi)

Related posts