Sosialisasi dan Pendampingan Pemetaan Pertisipatif Kabupaten Banyuwangi

BANYUWANGI – Pemetaan partisipatif merupakan salah satu teknik pemetaan dimana perolehan informasi dan datanya melibatkan peran serta dari berbagai pihak. Dalam hal ini, berbagai pihak yang dimaksud meliputi BPBD, mahasiswa dan para perwakilan desa.

 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali melaksanakan kegiatan pemetaan partisipatif. Kali ini kegiatannya dilaksanakan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berlangsung dari hari/tanggal;  Selasa – Kamis, 17 – 19 September 2019.

 

Acara pembukaan dan sosialisasinya dilaksanakan di Ruang Pertemuan Lt.3, Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Kabupaten Banyuwangi, Selasa (17/09) dimulai dari pukul.09.30 WIB sampai dengan selesai.

 

Hadir dalam acara pembukaan dan sosialisasi pemetaan partisipatif tersebut, Plh. Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Radito Pramono Susilo, S.T.  didampingi Kepala Seksi Pemaduan dan Sistem Jaringan,  Maryanto, S.Kom dan jajaran Staf Direktorat Kesiapsiagaan lainnya. Sementara itu dari pemerintah kabupaten Banyuwangi, hadir Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi, Fajar Suasana, SH, beserta jajaranya, perwakilan dari OPD terkait, serta para Kepala Desa/perwakilan dari kelurahan/desa yang terlibat dan undangan lainnya.

 

Plh.Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Radito Pramono, S.T. dalam kata sambutanya menyampaikan bahwa Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu target lokasi pemetaan partisipatif dari 136 Kabupaten/Kota yang masuk dalam target penurunan pengurangan risiko bencana sesuai dengan perioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN, 2015 – 2019). Disamping itu lanjutnya, bahwa berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) dan InaRisk, indek  ancaman bencana di Kabupaten Banyuwangi tergolong, sedang sampai dengan tinggi.

 

Melalui kegiatan pemetaan partisipatif ini, dimaksudkan untuk mengumpulkan dan melengkapi data dasar sumberdaya yang berbasis spasial. Harapan kedepan, nantinya bisa dituangkan dalam peta, baik peta dalam bentuk kertas maupun peta digital sehingga bisa digunakan oleh banyak pihak.

 

“Hasil dari pemetaan partisipatif ini, diharapkan dapat digunakan untuk rencana kontijensi, pembuatan jalur evakuasi, penentuan lokasi titik kumpul, serta acuan BAPPEDA dalam mendukung rencana tata kota, dan lain sebagainya,”jelas Plh. Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Radito Pramono, S.T.

 

Lebih lanjut Plh.Direktur Kesiapsiagaan BNPB juga menyampaikan bahwa data dan informasi yang dikumpulkan dalam kegiatan pemetaan partisipatif ini, antara lain ; fasilitas kesehatan, sosial, pendidikan, tempat ibadah, olah raga, gedung serba guna, ruang terbuka, kantor pemerintah, ruang terbuka, daerah pusat industri, daerah pusat ekonomi dan batas administrasi unit terkecil (RW), dll.

 

Untuk itu BNPB mengapresiasi atas sambutan dan dukungan serta keterlibatan dari masing-masing Kepala Desa/Perwakilan Desa di Kabupaten Banyuwangi yang hadir,  dapat berkolaborasi serta berperan aktif dalam mendukung kegiatan pemetaan partisipatif ini, dimana hasilnya semata-mata bukan hanya untuk BNPB tetapi untuk kepentingan warga masyarakat di Kabupaten Banguwangi ini. Output dari kegiatan ini diharapkan dapat meminimalisir korban jiwa dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat jika terjadi bencana.

 

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kab.Banyuwangi, Fajar Suasana, SH, menyampaikan bahwa melihat dari kondisi geografisnya, Kab.Banyuwangi memiliki potensi ancaman bencana seperti erupsi gunungapi, tsunami, gempabumi dan banjir. Berdasarkan data dari IRBI Kab. Banyuwangi masuk urutan ke 11 kejadian bencana di Indonesia.

 

Kalaksa BPBD Kab.Banyuwangi, berharap agar masing-masing Kepala Desa/Perwakilan dari Kelurahan/Desa yang ikut kegiatan ini, nantinya akan dapat memetakan sendiri wilayahnya masing-masing, sehingga dapat membuat perencanaan ketika terjadi bencana, dsb. Untuk itu Kalaksa BPBD Banyuwangi juga menyampaikan agar para Kepala Desa/Perwakilanya dapat mendukung kegiatan ini dengan memberikan data dan informasi wilayahnya sedetail mungkin.

 

Untuk di wilayah Selat Bali, lanjut Kalaksa BPBD Banyuwangi, elevansinya cenderung datar, sehingga jika terjadi air pasang akan mengakibatkan terjadinya genangan. Disamping itu ada 48 titik desa dari 11 kecamatan tercatat adanya bahaya tsunami. Melalui kegiatan ini Kalaksa juga berharap dapat meminimalisir dampak korban jiwa ketika terjadi bencana.

 

Kepala Seksi Pemaduan dan Sistem Jaringan BNPB, Maryanto, S.Kom sebagai narasumber dalam sosialisasi pemetaan partisipatif, menyampaikan bahwa melalui kegiatan pemetaan partisipatif ini, dapat digunakan sebagai data pendukung, bagaimana penanggulangan dapat berjalan efektif.

 

Untuk itu, lanjut Maryanto, bahwa kami hadir disini, sangat berharap agar Bapak/Ibu Kepala Desa/Perwakilan dari masing-masing desa dapat membantu tim GIS kami dalam memberikan informasi dan memvalidasi. Dapat memberikan informasi lokasi sejarah kebencanaan yang pernah terjadi diwilayahnya. Di Kabupaten Banyuwangi, juga sudah ada 9 (sembilan) Desa Tangguh Bencana (Destana), dan sebagaian hadir pada kegiatan pemetaan partisipatif ini. Desa-desa lain yang belum dilaksanakan desa tangguh bencana, terutama di sekitar pantai, bisa mulai memetakan jalur evakuasi dengan mempertimbangkan kondisi jalan, elevansi, dan lain sebagainya.

 

“Perlu upaya lain seperti pembangunan shelter, jika tidak ada anggaranya bisa menggunakan hotel/bangunan yang lokasinya cukup tinggi, tentunya dengan membuat MoU terlebih dahulu dengan penanggung jawab lokasi tersebut, “jelas Maryanto.

 

Kegiatan Desa Tangguh, salah satunya,  yaitu Desa Sumberagung, sebagai juara 1 (satu) Desa Tangguh Bencana tingkat provinsi. Dalam beberapa hari terakhir banyak terjadi gempa, masyarakat langsung lari ke lokasi aman tsunami. Desa Sumberagung pernah mendapat pelatihan simulasi langsung dari BPBD Provinsi Jawa Timur, sehingga masyarakat disana sudah memiliki pemahaman penyelamatan diri ketika terjadi bencana. Jika terjadi gempa mereka langsung lari ke titik kumpul. Diharapkan bisa dibangun jalur evakuasi, karena belum ada, dan tahun 1994 di desa Sumberagung pernah terjadi tsunami.

 

Kegiatan pemetaan partisipatif di Kabupaten Banyuwangi berlangsung selama 3 (tiga) hari ; Hari Pertama (Selasa, 17 September 2019) ; Sosialisasi Kegiatan dan Penjelasan Teknis. Hari Kedua (Rabu, 18 September 2019) ; Pendampingan (labeling) Pemetaan Partisipatif. Dan hari Ketiga (Kamis, 18 September 2019) ; Pendampingan (labeling) Pemetaan Partisipatif.

 

Hari Selasa, Rabu dan Kamis para Kepala Dewa/perwakilanya diharapkan tetap hadir sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk melakukan pendampingan Pemetaan Partisipatif. Pemetaan Patisipatif di Kabupetan Banyuwangi melibatkan sebanyak 35 desa (sesuai undangan) yang merupakan desa rawan bencana tsunami, berdasarkan data dari panitia dari jumlah tersebut sebanyak, 4 (empat) desa berhalangan hadir.

 

Pemanfaatan data – data yang akan dikumpulkan dalam pemetaan partisipatif ini meliputi : Perkiraan infrastruktur terdampak, perencanaan tempat evakuasi, perancanaan titik kumpul, perencanaan rute evakuasi. Selain digunakan untuk kepentingan penanggulangan bencana data spasial dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan perencanaan wilayah.(ws)

 

 

Kedeputian Bidang Pencegahan  

Direktorat Kesiapsiagaan

Related posts