Riset Kebencanaan Ditingkatkan untuk Kurangi Risiko Bencana

BANDUNG – Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-3 pada 23 – 24 Mei 2016 di Bandung, Jawa Barat. PIT ke-3 yang berlangsung di Aula Barat, Aula Timur dan Campus Center Institut Teknologi Bandung ini memfokuskan pada pembahasan pengurangan risiko bencana (PRB) dengan berbagai perspektif pendekatan, seperti aglomerasi PRB, risk warning, atau pun risk communication. Indikator dalam konteks pembahasan tersebut mengacu pada rumusan absolute risk (AR) dan emerging risk (ER), yang diharapkan sebagai rumusan bersama pada akhir PIT. AR dan ER merupakan elemen yang melekat pada definisi risiko sehingga elemen tersebut sangat berpengaruh pada pendekatan dan strategi PRB di Indonesia.  Seiring dengan konteks tersebut, IABI memiliki kompetensi dan peran, khususnya, di bidang keilmuan dalam melakukan riset bencana. Riset tersebut tidak hanya dalam pengembangan keilmuan teknis terkait bencana tetapi juga pendekatan strategis penanggulangan bencana dan arah kebijakan pembangunan nasional 2015 – 2019.  Dalam sambutan pembukaan, Sekretaris Utama BNPB, Dody Ruswandi, mengatakan bahwa pihaknya mendorong peneliti, praktisi, maupun masyarakat peduli bencana dalam melakukan riset. Dody Ruswandi berpendapat bahwa riset dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia dan ini dapat juga dibagikan kepada komunitas internasional. Di samping itu, Dody menyampaikan bahwa BNPB telah melakukan berbagai upaya, salah satunya riset dengan melibatkan berbagai pihak. Tantangan saat ini yaitu terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan dokumentasi hasil riset yang belum terkoordinasi dengan baik. “Selain itu, para pelaku penelitian atau pakar yang merupakan potensi sumber daya pengetahuan Indonesia juga masih belum terwadahi dalam suatu koordinasi yang baik, sehingga informasi sebaran peneliti dengan keahliannya masih sulit terjangkau oleh peneliti lain dan para pelaku penanggulangan bencana, termasuk para pengambil kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia,” kata Dody Ruswandi pada sambutan pembukaan. "Perubahan iklim dan demografi ikut mempengaruhi kejadian bencana. Pada masa mendatang bencana tidak hanya sekedar bencana tetapi dapat mempengerahui sektor lain. Untuk itu perlunya kerjasama dengan sektor lain. IABI dapat mendorong penelitian bencana yang dapat berguna  bagi negara-negara risiko bencananya tinggi", kata Dody. Sementara itu Prof. Kadarsyah selaku Rektor ITB, mengatakan, "seperti kita ingat peristiwa Tsunami di Aceh yang menyebabkan kerusakan parah menjadi pusat perhatian masyarakat di dunia, untuk pengurangan risiko bencana menjadi prioritas, seperti mitigasi, peningkatan kesiapsiagaan. Untuk pasca bencana build back better, pengalaman saya saat berkunjung ke Aceh, pasca bencana,  seperti kapal yangg terdampar di atas rumah, saya tidak bisa bayangkan kejadian yg begitu parah. Peran penanggulangan bencana untuk pembangunan berkelanjutan dapat mengetaskan kemiskinan, akibat dari bencana alam. ITB dalam institusi pendidikan telah menjembatani penelitian dan pengembangan dalam pengurangan risiko bencana. Seperti industri inovation dan infrastructure agar dapat mewujudkan dampak yang baik dalam penanggulangan bencana. Seperti kita ketahui persoalan bencana bukan hanya urusan pemerintah, tetapi perlunya kerjasama dengan semua pihak terkait penanggulan bencana. Dalam perkembangannya ITB telah banyak meneliti, memetakan wilayah bahaya bencana maupun kajian-kajian science dalam penanggulangan bencana. Seperti kejadian banjir di wilayah Bandung selatan, karena banyak pembangunan rumah di aliran sungai. Penelitian-penelitian ITB telah menghasilkan alat penyaringan air, alat pengisap debu, alat pendeteksi getaran tanah dan lainnya.Tantangan ke depan bagaimana alat inovasi penanggulangan bencana dapat mudah diakses masyarakat, dan harganya murah. Saya berharap pada pertemuan ini dapat meningkatkan kerjasama dengan pihak penanggulangan bencana dan dapat memberikan kajian, solusi dalam pengurangan risiko bencana," tutur Kadarsyah. Sambutan Ridwan Kamil selaku  walikota Bandung. "Saya selalu melakukan inovasi dalam mengembangakan kota Bandung lebih baik. Pembangunan Bandung tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi adanya nilai manfaat. Kami bereksperimen dalam pengembangan desa, yaitu penanggaran pembangunan desa secara merata. Dibutuhkan pemimpin yang bisa berinovasi dan menemukan solusi dalam permasalahan penanggulangan bencana dan tantangannya. Background ilmu saya seorang arsitek, jadi lebih ke pasca bencana. Saya pernah mendesain museum pasca bencana Tsunami di Aceh. Kita harus belajar dari negara Jepang, dimana penanganan bencana sudah cepat, dan baik seperti korban bencana cepat ditangani. Kita juga perlu mengedukasi masyarakat agar mau tolong menolong. Penanggulangan bencana tidak hanya dari segi teknologi bencana tetapi dapat melahirkan teori mitigasi bencana, nilai preventif dan nilai sosial", kata Ridwan. Melalui PIT ke-3, diharapkan tantangan di atas dapat terjawab dan forum ini dapat melahirkan rekomendasi-rekomendasi, khususnya dalam konteks PRB, yang bermanfaat dalam penanggulangan bencana di Indonesia. IABI yang memiliki 12 kelompok kerja berdasarkan jenis bencana merupakan organisasi yang beranggotakan 350 ahli di bidang bencana yang berasal dari para akademisi, birokrat, lembaga riset, para praktisi dan masyarakat peduli bencana. Organisasi nirlaba yang terbentuk 5 Juni 2014 telah menyusun blueprint dan roadmap riset kebencanaan di Indonesia. Tujuan pembentukan IABI adalah (1) mensosialisasikan perkembangan konsep dan pengetahuan bencana kepada stakeholder di bidang bencana dan (2) melakukan riset bencana yang strategis dan menjadi prioritas nasional, untuk dipublikasikan kepada publik. IABI berfokus pada riset pengembangan sistem peringatan dini pada periode 2014 – 2017. Sistem tersebut mencakup dalam konteks bencana tsunami, banjir, banjir bandang, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, dan gerakan massa atau tanah longsor. Beragam aktivitas diselenggarakan oleh IABI dalam PIT ke-3 seperti seminar nasional, diskusi panel, pameran, dan kunjungan lapangan. Pembicara kunci pada seminar nasional berasal dari Kepala BNPB, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Menteri Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat serta praktisi sekaligus pengarah IABI. Sutopo Purwo Nugroho  Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

Related posts