Prioritas Bencana Kekeringan di Jawa Barat, Tengah dan Timur

BOYOLALI - Pada rapat penanggulangan bencana kekeringan tahun 2015 yg dihadiri oleh BNPB di Kementerian Pertanian, disepakati bahwa beberapa provinsi yang menjadi prioritas penanggulangan adalah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat (10/8). Tindak lanjut yang akan dilakukan antara lain adalah hujan buatan dengan posko ada di Lanud Halim Perdanakusuma. "Namun metode ini juga tergantung dari awan yg bisa disemai, sehingga tergantung informasi dari BMKG" ucap Syamsul Maarif selaku Kepala BNPB. Disamping itu kampanye hemat air juga dilakukan. Masyarakat diharapakan bijak dalam penggunaan air untuk keperluan sehari-hari dan keperluan untuk ternak. Setelah menghadiri rapat di Kementerian Pertanian, Kepala BNPB langsung menuju Desa Sumur, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Desa sumur terbagi menjadi 18 RT dan masyarakat sangat mengandalkan air hujan untuk keperluan sehari-hari dan ternak. Hampir tidak ada sumur di desa ini dan pada waktu musim kemarau sungai menjadi kering. Petugas terkait dengan metode geolistrik telah memeriksa kandungan air di dalam tanah dengan hasil kandungan air sangat sedikit. Sehingga jika dilakukan pengeboran, air yang didapatkan tidak sebanding dengan biaya yg dikeluarkan. Kesulitan air memang menjadi masalah di wilayah ini setiap tahunnya. Sebagian besar masyarakat membeli air untuk kebutuhan hidup sebelum ada bantuan droping air. Menuju Desa Karanganyar , Kecamatan Musuk, masyarakat dengan bantuan CSR dari pertamina sentra pemberdayaan tani desa dibuatkan embung dengan fungsi untuk pertanian. Embung dengan luas 80x80m ini dibuat dengan menggunakan 2 alat berat dan membutuhkan waktu lebih dari 2 bulan pembuatannya dengan biaya kurang lebih 350 juta rupiah. Kedalaman embung ini adalah 3m, dengan lapisan geomembran yg bisa tahan sampai 25 tahun tidak bocor. Namun embung ini hanya untuk pertanian, blum bisa digunakan untuk kebutuhan minum masyarakat Droping air bersih ke desa yang dikirimkan untuk keperluan minum masyarakat 1 tangki ke setiap mushola yang ada di setiap desa. Perlu diketahui, 1 tangki air hanya cukup untuk 1 kk dalam 1 minggu untuk keperluan keluarga dan ternak. Pemerintah dalam satu hari mampu droping sebanyak 4 kali, karena jarak pengambilan air 8 Km. Masyarakat di wilayah ini, sudah memiliki lokal wisdom dalam menghadapi muaim kemarau. Lokal Wisdom dilakukan dengan membuat embung dan kolam tadah hujan. Kolam tadah hujan berfungsi sebagai air tadah hujan sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat diwaktu kemarau. Beberapa masyarakat sudah membuat kolam tadah hujan di setiap rumah mereka, namun tidak selalu cukup untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan ternak selama musim kemarau. Menurut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo masyarakat Jawa Tengah sudah menyadari bencana kekeringan setiap tahunnya. "Melalui kearifan lokal yang dimiliki masyarakat, mereka sudah tangguh dalam menghadapi bencana kekeringan ini, namun media terlau sering mengekspose berita tersebut sehingga muncul empati masyarakat terhadap masyarakat lainnya" ucapnya. Dalam jangka panjang pembuatan embung/tandon dalam skala besar akan dilakukan dengan menyedot air dari sumber atau sungai yang diletakan di dataran tinggi, kemudian air akan dialirkan ke masyarakat dibawahnya imbuh Bapak Ganjar. Sementara itu, menurut Kepala BNPB untuk mengatasi masalah kekeringan ada 4 (empat) cara antara lain adalah Hujan buatan, Tangkinisasi (droping air minum), Embungnisasi, Desalinasi.

Related posts