Perlu Solusi Total Atasi Banjir di Cekungan Bandung

Banjir yang menggenangi lima kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat telah berlangsung selama 10 hari, sejak Kamis (18/12) pukul 20.50 WIB hingga sekarang. Namun belum semua wilayah tergenang banjir surut. Banjir di Cekungan Bandung atau di DAS Citarum Hulu ini sesungguhnya sudah berlangsung sejak lama karena kondisi alamiah topografinya cekung seperti mangkok. 

Bertambahnya penduduk dan degradasi lingkungan, frekuensi banjir makin meningkat. Daerah di Baleendah, Dayeuhkolot, Majalaya, Bojongsoang, dan Banjaran adalah pemukiman padat dan berkembang kawasan industri. Sejak 1980-an banjir hampir setiap tahun. Jika tahun 2.000 penduduk di Cekungan Bandung 6,2 juta jiwa, namun tahun 2014 diperkirakan 9,1 juta jiwa. Tekanan penduduk yang besar ini cenderung mengeksploitasi ruang dan lingkungan, menyebabkan erosi 1-1,7 juta ton/hektar dari 7 sub DAS Citarum Hulu. Akibatnya sedimentasi di sungai Citarum dan anak-anak sungainya.

Untuk itu perlu penanganan yang komprehensif, baik struktural maupun non struktural. Usulan penanganan banjir jangka pendek di DAS Citarum ini sudah pernah dibahas dalam rapat koordinasi tingkat menteri di Kantor Kemenkokesra pada Rabu (3 Maret 2010) setelah terjadi banjir besar. Beberapa usulan adalah 1) konservasi di 7 sub DAS Citarum Hulu, 2) Relokasi perumahan di Cieunteung, Dayeuhkolot, dan Citepus., 3) normalisasi Sungai Citarum dan 9 anak sungainya, 4) pembangunan 22 waduk dan kolam rentensi, 5) pembenahan drainase, 6) revitalisasi permukiman di bantaran sungai, 7) sosialisasi dan hidup harmoni bersama banjir. Total anggaran yang diusulkan Pemerintah Daerah Jawa Barat dan Kementerian PU adalah Rp 3,3 trilyun. Namun sayangnya tidak terlaksana.

Banjir di beberapa wilayah Bandung telah berdampak pada lebih dari 14 ribu jiwa atau sekitar 4.400 KK mengungsi. Total warga yang masih mengungsi sejumlah 14.276 jiwa. Mereka berasal dari Kecamatan Baleendah 5.365 jiwa (1.608 KK), Dayeuhkolot (5.827 jiwa (1.906 KK), Bojongsoang 1.680 jiwa (498 KK), Ketapang 747 jiwa (229 KK), dan Cicalengka 657 jiwa (159 KK).

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Related posts