Penyajian Data Komprehensif Melalui Dukungan InaDDX

BOGOR - Data bencana sangat beragam dan berkuantitas besar. Data 'berserakan' baik internal organisasi atau pun lintas organisasi akan menyulitkan dalam suatu manajemen penanggulangan bencana. Padahal penanggulangan bencana membutuhkan keterpaduan dan keefektifan, salah satunya melalui dukungan data. Hal ini mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membangun teknologi berbasis CKAN. Teknologi ini merupakan teknologi manajemen konten mirip seperti wordpress, namun khusus untuk data, bukan halaman atau blog. Dengan dukungan dari United Nations Population Fund (UNFPA), BNPB sedang merampungkan tahapan akhir penyempurnaan aplikasi ini dengan nama Indonesia Disaster Data Exchange (InaDDX). “Keunggulan InaDDX mampu mengindeks data dengan cepat, dengan dukungan teknologi solr yang cara kerjanya seperti mesin pencari sekelas google”, ujar Hermawan Agustina, Kepala Bidang Data BNPB pada acar workshop Penyusunan Pedoman Penggunaan InaDDX di Bogor, Kamis (1/9). Secara fisik data boleh berada di server yang sama, atau dimungkinkan tetap berada di masing-masing kementerian lembaga dengan menambahkan link-nya, bahkan ditambahkannya secara otomatis menggunakan API-CKAN. Dengan bantuan metadata yang merupakan penjelasan tentang data itu sendiri, maka dimungkinkan sebuah dataset indeks dan ditemukan dari berbagai kata kunci. Sebagai contoh sebuah dataset bencana bisa ditambahkan tag longsor, Purworejo, Juli, bukit, pergerakan tanah dan sebagainya sehingga ketika diproses bisa ditemukan dari berbagai perspektif pencarian, sangat efektif dan efisien. Melalui InaDDX ke depan diharapkan semua unit di BNPB secara terintegrasi data bertukar data dan informasi secara cepat, tanpa harus menunggu harmonisasi format dan struktur data. Selain data dari internal BNPB, data terkait bencana dari kementerian kesehatan, bps, bapenas, kementerian sosial dan lainnya tinggal menambahkan link dan metadatanya. Dengan demikian kolaborasi data dari berbagai sumber dan lintas kementerian lembaga menjadi bisa terwujud. “Integrasi, kolaborasi dan aksesibilitas menjadi prinsip utama dari aplikasi ini” demikian Hermawan mengakhiri acara workshop. Peserta workshop ini akan menjadi agen informasi di unit kerja masing-masing, karena mereka sudah merasakan sendiri sebagai user maupun sebagai admin, sekaligus terlibat dalam penulisan Buku Pedoman Penggunaan InaDDX.

Related posts