Pelatihan dan Knowledge Sharing Radar Hujan Untuk Peringatan Dini Bencana Banjir Berbasis Satelit

JAKARTA – Dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan respon jajaran di Pusdalops BNPB terkait peringatan dini bencana banjir berbasis satelit, maka pada Jumat (10/01) diadakan knowledge sharing Radar Hujan Berbasis Satelit, di ruang Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops)  BNPB, Lt.11, Gedung Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (13/1).

Dalam pelatihan dan knowledge sharing radar hujan berbasis satelit tersebut dipaparkan, pengenalan tentang SADEWA (Satelit Disaster Early Warning System) dan SANTANU oleh Bapak Dedi Setiadi bersama tim dari Direktorat Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PTSA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Acara pelatihan dan knowledge sharing dibuka oleh Kepala Pusdalops BNPB, Bambang Surya Putra, dihadiri oleh Para Kepala Bidang, Kasubbid, dan staf serta seluruh jajaran Pusdalops.

Dalam arahanya Kepala Pusdalops menegaskan bahwa jajaran Pusdalops dituntut memiliki sensitifitas dalam merespon setiap kejadian bencana yang terjadi. Untuk itu perlunya memberikan pembekalan sebagai bahan pengetahuan untuk membantu meningkatkan respon.

SADEWA merupakan aplikasi berbasis web yang terdiri dari sistem pemantauan atosfer berbasis satelit Himawari-8, sistem prediksi atmosfer berbasis model WRF, dan sistem peringatan dini hujan ekstrim. SADEWA berfungsi untuk memantau kondisi atmosfer secara real time, memprediksi kemungkinan terjadinya hujan ekstrim, dan memberikan informasi peringatan dini kepada pihak-pihak yang terkait dengan penanggulangan bencana.

Jangkauan SADEWA meliputi seluruh wilayah Indonesia dengan resolusi 5 km, resolusi waktu 1 (satu) jam, dengan jangkauan prediksi 3 (tiga) hari ke depan. Informasi SADEWA di update secara otomatis setiap jam dan dapat dilihat di website eksperimental di sini.

Disamping itu dalam pelatihan tersebut, juga disampaikan  tentang Sistem Pemantau Hujan yang disingkat SANTANU. Radar ini dapat memantau hujan hingga radius kurang ebih 44 km, SANTANU menampilkan lokasi yang tengah diguyur hujan, dan dapat diakses melalui link ini.

Radar hujan SANTANU dipasang di kantor-kantor milik LAPAN seperti di Bandung dan Rumpin, Bogor. Kerjasama antara BNPB dan LAPAN, untuk pemasangan radar hujan SANTANU di kantor BPBD Sukabumi (Jawa Barat),  Bima dan Kota Sorong (Papua Barat). Selain itu radar hujan SANTANU juga telah memantau daerah Lembang, Sumedang, Pontianak, Kotoabang dan Sadeng.

Pada layer laman radar hujan SANTANU bisa diakses dengan mudah oleh publik, tampilanya terbagi tiga. Peta dan radar hujan berukuran besar menampilkan kondisi hujan hingga radius 40 km dari lokasi radar, pada bagian kanan atas ada peta yang bisa diperbesar dan lebih detail, termasuk kondisi perubahan hujan per 2 (dua menit).

Warna pada sebaran awan menggambarkan tingkat intensitas hujan, dari mulai ringan, sedang hingga lebat. Sistem juga menampilkan luas area yang diguyur hujan deras. Selain itu pergerakan awan hujan juga bisa diketahui akan kearah mana.

Ada 14 corak warna bertingkat dari biru muda hingga ungu. Warna biru tua misalnya, menandakan hujan ringan. Sementara warna hijau mengindikasikan hujan deras. Yang perlu diwaspadai adalah hujan warna hijau yang cakupanya cukup luas, ini berarti hujannya menjangkau hulu hingga hillir sungai.

Keduanya merupakan produk penelitian dan pengembangan yang dikembangkan oleh Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PTSA) – LAPAN. Kelompok penelitian potensi bencana hidrometereologis mengamati atmosfer untuk mempelajari dinamika dan variabilitas atmosfer terkait bencana banjir, longsor, puting beliung dan kekeringan dengan tujuan untuk memahami mekanisme terjadinya bencana dan dapat memprediksinya dengan lebih baik.

Pemanfaatan teknologis berbasis satelit dan hasil-hasil riset dari kelompok penelitian potensi bencana hidrometereologis ini dimanfaatkan untuk mengembangkan system pendukung keputusan (DSS) di bidang kebencanaan untuk membantu pihak-pihak yang terkait dengan penanggulangan bencana. (ws)

Related posts