Meningkatkan Budaya Sadar Bencana Sejak Dini

BOYOLALI - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan sosialisasi dan pelatihan budaya sadar bencana sejak dini di SMA 1 Boyolali.  Kepala Sekolah Drs.Agung Wardoyo mengatakan SMA 1 Boyolali sangat bangga dengan alumni yang berhasil. "Kami juga sangat berterima kasih kepada BNPB yang telah memberikan perhatian kepada masyarakat Boyolali khususnya SMA 1 Boyolali" ucapnya.  Anggota DPR RI juga turut hadir, Ibu Endang Srikarti Handayani yang juga Anggota DPR Komisi VI mengatakan anggota dewan wajib melayani masyarakat salah satunya adalah memberikan informasi dalam penanggulangan bencana. "Mari kita tumbuhkan budaya sadar bencana" ujarnya.  Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Boyolali, Nur Khamdani menjelaskan bencana paling besar yang sering dialami Boyolali adalah banjir,longsor dan puting beliung yang menjadi potensi risiko bencana di Boyolali. “BPBD Boyolali akan mempraktekan penanggulangan bencana kebakaran, SAR dan pertolongan pertama kepada adik-adik semua” ungkapnya. Dalam rangkaian kegiatan sosialisasi budaya sadar bencana yang diinisiasi BNPB. Siswa-siswi juga diajarkan dasar fotografi yang diajarkan oleh Arbain Rambey. Bagaimana memaksimalkan handphone dalam penggunaannya dan penulisan berita diajarkan oleh Ahmad Arif. “Kita harus lebih Hebat,dahsyat,dan luar biasa. Serta memberikan tantangan baru sejak dini, yakni pencerahan dalam menulis dan memotret untuk menumbuhkan budaya sadar bencana masyarakat kita” ucap Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas. Disamping itu, BNPB juga melakukan sosialisasi untuk siswa sekolah dasar. Antara lain adalah dengan menggunakan media film,dongeng, paparan risiko bencana Gunung Api Merapi, serta kuis. Kegiatan tersebut dilaksanakan di SDN Paras 1,2 dan 3, daerah Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah. 

Sosialisasi Budaya Sadar Bencana melalui Media Tradisional

BPBD Jawa Tengah, menjadi barometer dalam penanggulangan bencana di daerah lain. Prestasinya dan banyaknya potensi bencana yang menjadi ancaman dari tahun ke tahun.  Salah satunya potensi ancaman letusan Gunung Api aktif, yakni Gunung Merapi. Jika liat periodesitasnya dari jangka pendek 2-4 tahun, jangka menengah 4-7 tahun dan jangka panjang dapat mencapai 100 tahun. “Tahun depan merupakan fase Gunung Merapi memasuki tahun ke 7, setelah tahun 2010 meletus hebat.  Maka dari itu, kita harus tingkatkan kewaspadaan sejak dini untuk mengantisipasi tahun depan yang memasuki fase ke 7 tahun” ucap Sutopo.  “Maka dari itu, BNPB juga melakukan sosialisasi melalui pertunjukkan kesenian tradisional dengan wayang kulit” tambahnya. Masih dalam rangkaian kegiatan sosialisasi, BNPB juga mengadakan kesenian rakyat dengan media wayang kulit untuk masyarakat Boyolali. Pagelaran ini diselenggarakan untuk kalangan terbuka di lapangan Paras Cepogo, Wilayah Pesanggrahan, Boyolali. Dengan tema "Kenali Bahaya, Kurangi Risikonya" dipandu dalang Ki Mulyono Purwo Wijoyo, selain menghibur masyarakat setempat, acara ini juga menjadi ajang sosialisasi dengan media wayang kulit sekaligus memberikan edukasi mengenai bencana. (acu)

Related posts