Memperingati 10 Tahun Tsunami Aceh

JAKARTA - Sepuluh tahun lalu, tepatnya Minggu, 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1-9,3 Skala Richter mengguncang Samudera Hindia. Tak berselang lama setelah gempa, sekitar 10 menit,gelombang raksasa setinggi 30 meter menghempas sejumlah kawasan pesisir di Indonesia,Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, dan pesisir Timur Afrika. Peristiwa gempa bumi dan tsunami di Samudera Hindia itu tercatat sebagai salah satu bencana terdahsyat di abad 21. Lebih dari 230 ribu korban dinyatakan meninggal atau hilang. Selain menyebabkan derita kemanusiaan, peristiwa bencana tersebut juga menyebabkan kerugian besar di bidang ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Aceh ketika itu seperti kembali ke titik nol. Seluruh aktivitas pemerintah dan masyarakat lumpuh total. Lebih dari 500 ribu orang terpaksa
tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Tsunami Aceh kemudian membangkitkan gerakan masif bagi kemanusiaan (bantuan dan volunterisme) secara global, peristiwa ini kemudian menjadi titik awal penyadaran terhadap isu kebencanaan bagi seluruh sektor. Bantuan dan uluran tangan untuk Aceh pun berdatangan, lebih dari 685 juta USD (belum termasuk dana-dana yang langsung di berikan kepada masyarakat).Ribuan relawan berdatangan, bahu membahu membangun kembali Aceh yang hancur. Kini,sepuluh tahun peristiwa tersebut berlalu, ada banyak pembelajaran yang diperoleh oleh seluruh masyarakat di Indonesia. Bahwa sejatinya, kesiapsiagaan adalah hal yang sangat penting, sebagai upaya untuk mengurangi risiko.

Fun 3K Run For Tsunami

Dalam rangka memperingati 10 tahun tsunami Aceh, Badan Nasional Penanggulangan Bencana bekerjasama dengan Platform Nasional, serta berbagai elemen masyarakat, menyelenggarakan berbagai kegiatan yakni Fun 3K Run For Tsunami yang diadakan tanggal 21 Desember 2014 di Jalan Kotabumi, Sudirman, Jakarta.

Kegiatan ini memanfaatkan Car Free Day pada hari Minggu dan panitia membagikan gelang dan tanda kampanye lainnya untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap tsunami. Start lari dari depan panggung Jalan Kotabumi menuju Bundaran HI dan putar di depan sarinah, kemudian ke arah bawah Blora lalu kembali ke panggung tempat start. 

Sehari sebelumnya, 20 Desember 2014 telah dilakukan peluncuran buku, pameran foto, dialog interaktif, musikalisasi puisi dan musik Performance di Langsat Corner, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai komunitas anak-anak muda. 

Tujuan dari program ini, menurut ketua panitia Adi Pamungkas, adalah memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap persoalan bencana dan mitigasi bencana, tsunami dan membangun kesadaran bersama, khususnya bagi anak-anak muda.
"Program ini didedikasikan kepada peristiwa bencana Aceh, tak hanya menjadi suatu peringatan, melainkan membuka kembali ruang terhadap potensi pembelajaran maupun strategi keberlanjutan  bagi seluruh pihak dari peristiwa bencana" ucapnya. (acu).


Related posts