Kembali ke Rumah, Pesan untuk Warga Pascagempa Maluku

AMBON – “Pagi ini, saya berkesempatan untuk sosialisasi di Gereja Protestan Maluku (GPM) Suli. Bersama rekan dari LIPI, kami sedikit bercerita tentang gempa bumi dan bagaimana menghadapinya. Walaupun hanya 15 menit, tapi warga jemaat sangat antusias. Tidak ada yang meninggalkan kursinya. Semua jemaat duduk dan mendengarkan,” demikian pesan digital dari Fretha Julian dari BPBD Provinsi pada Minggu (24/11).

Sebetulnya sosialisasi ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan tentang langkah-langkah menghadapi gempa bumi. Bersamaan dengan kegiatan itu, upaya 'Gerakan kembali ke rumah.'

Pesan utama yang ingin disampaikan di hadapan jemaat saat itu yaitu gerakan kembali ke rumah. Gerakan ini diinisiasi dari Majelis Jemaat GPM Suli sejak Oktober 2019 dengan ditandai dengan lonceng gereja yang dibunyikan setiap jam 5 pagi. Jemaat diajak untuk berdoa di rumah mereka masing-masing ketika lonceng berbunyi.  

“Alhasil, sudah banyak masyarakat Suli yang sudah kembali ke rumah masing-masing. Walaupun masih banyak anggota masyarakat lain yang masih menetap di tenda ketika malam,” ujar Fretha.

Ia menambahkan bahwa Ketua Majelis Jemaat GPM Suli telah memberikan contoh kepada warga. Sikap itu ditunjukkannya sejak 26 September 2019. Ketua memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah pastorinya yang berada di kawasan Suli Bawah.  

“Perlahan-lahan anggota jemaat sudah mulai turun ke rumah masing-masing,” ujar Fretha.

Di sisi lain, Majelis Jemaat GPM Suli telah menyediakan dua tempat evakuasi bagi masyarakat dan mereka sudah paham harus berlari ke tempat evakuasi tersebut. 

Sementara itu, pascagempa pada September lalu dan ditambah dengan gempa susulan telah membuat bangunan gereja mengalami retak-retak. Kondisi ini mendorong majelis untuk membuat konstruksi sederhana di depan gereja sehingga jemaat merasa tenang ketika beribadah. 

“Menurut Majelis Jemaat, mereka sedang menunggu kajian teknis dari Dinas PUPR Provinsi Maluku, tentang kelayakan gedung gereja,” tambah Fretha.

Dari sepenggal kisah tadi, Fretha berpendapat beberapa poin yang dapat dipelajari. Pertama, jika semua komunitas dengan kesadaran sendiri menginisasi ‘Gerakan Kembali ke Rumah,’ maka dapat membantu kenyamanan masyarakat untuk mendiami rumah masing-masing. “Tentunya bagi mereka yang struktur rumahnya masih kuat,” kata Fretha.

Kedua, pimpinan komunitas memegang peran penting dalam pemulihan masyarakat dan terakhir ketika ada sarana evakuasi, baik rambu evakuasi maupun tempat evakuasi, masyarakat akan sangat terbantu ketika ada ancaman bahaya terjadi. 

“Siaga bencana seyogyanya harus berasal dari individu dan komunitas masing-masing,” ujar Fretha.

Gempa Maluku ini sangat unik karena sangat aktif. Apabila dilihat dari gempa susulan telah mencapai ribuan dan ratusan di antaranya dirasakan oleh warga. Hingga 24 November 2019, BMKG memonitor gempa susulan terjadi 2.509 kali dan 287 kali dirasakan warga. Gempa yang terjadi pada 26 September 2019 itu telah mengakibatkan korban meninggal 41 jiwa dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

 

Agus Wibowo

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

Related posts