Kebencanaan dan Pentahelix dalam Penanggulangan Bencana di Indonesia

NUSA DUA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyampaikan gagasan dalam kegiatan the 9th International Conference on Building Resilience dan 4th ITB Centennial International Conference on Disaster Management yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung yang didukung Universitas Hudderfields, Inggris pada 13 – 15 Januari 2020 di Nusa Dua, Bali.

 

Doni menyampaikan mengenai kebencanaan dan pentahelix dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Menurutnya, bencana selalu beririsan dengan setiap individu. Oleh karena itu, Doni menegaskan bahwa bencana menjadi urusan bersama.

 

“Semua pihak wajib memiliki kesadaran kolektif akan kepedulian terhadap bencana,” ujar Doni pada Senin pagi ini (13/1) di Westin Nusa Dua, Bali.

 

Sementara itu, pentahelix dimaknai Doni Monardo sebagai kerangka kerja dalam berkegiatan dan berkarya agar lebih maksimal, khususnya dalam konteks penanggulangan bencana di Indonesia.

 

Pentahelix di sini adalah pihak atau helix yang memiliki peran, kepentingan maupun karakternya. Mereka terdiri dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi atau pakar dan media massa. 

 

“Pencegahan dan penanganan bencana alam, tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Dalam hal ini, pentahelix adalah sebuah jawaban. Tinggal disesuaikan jurus pentahelix prabencana, tanggap darurat dan pascabencana. Sebab karakter masalahnya berbeda beda dan juga memperhatikan aspek lokal,“ ucap Doni.

 

Di samping itu, nilai sinergitas dan gotong-royong merupakan nilai yang patut dijunjung tinggi di bumi nusantara. Hal tersebut tidak terlepas dari kenyataan bahwa Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana. Nilai sinergitas bermakna bahwa penanggulangan bencana di Indonesia dapat berlangsung efektif. Sedangkan gotong-royong, Doni menyampaikan melalui pentahelix, nilai tersebut harus diupayakan berbagai pihak sesuai dengan fungsi dan kapasitasnya. Menurut Doni, nilai gotong-royong adalah murni jati diri bangsa Indonesia. 

 

“Saya percaya jika itu (gotong-royong) jiwa maka tidak akan pernah luntur. Kita hanya perlu mengasah,” ujar Doni.

 

Doni menilai bahwa ruh gotong-royong terdapat pengertian tulus-ikhlas, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, rela berkorban dan tanpa pamrih.

 

“Karena itu, pentahelix dalam praktiknya adalah semangat jiwa gotong royong,” tambah Doni dalam satu kesempatan.

 

Pada kegiatan peringatan 100 tahun ITB ini, Doni juga menyampaikan bahwa salah satu helix yang berperan strategis dalam penanggulangan bencana yaitu akademisi atau pakar. Mereka berperan melakukan kajian saintifik atau pun rekomendasi dalam pengurangan risiko bencana. 

 

“Belajar dari banyak peristiwa bencana, akademisi dan pakar yang tergabung di perguruan tinggi yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) turut mendukung upaya-upaya pengurangan risiko bencana,” ujar Doni. 

 

Doni juga menambahkan bahwa terkait dengan penguatan edukasi, penelitian dan pengabdian masyarakat, mulai dari riset-riset dasar pemahaman risiko, upaya mitigasi hingga kesiapsiagaan bencana, ITB diharapkan menjadi salah satu pelopor dalam menggagas Program Perguruan Tinggi Tangguh Bencana yang telah diluncurkan pada 25 Januari 2019 lalu secara nasional. 

 

Agus Wibowo

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB

Related posts