INASAFE KARYA BNPB, AIFDR DAN WORLD BANK RAIH ROOKIE OF THE YEAR 2012 DARI BLACK DUCK

Indonesia Scenario Assessment for Emergencies disingkat InaSAFE adalah perangkat lunak berbasis open source untuk perkiraan dampak bencana secara cepat yang dikembangkan oleh BNPB bersama Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) dan Word Bank mendapat penghargaan Rookie of The Year 2012 dari Black Duck. InaSAFE, Yahoo dan Microsoft merupakan beberapa software yang juga mendapat penghargaan Open Source Rookie of The Year 2012. Ini merupakan salah satu capaian besar bahwa InaSAFE sejajar dengan produk-produk perusahaan multinasional seperti Microsoft dan Yahoo.
 
Setiap tahun Black Duck  berbasis di Massachusetts AS, melakukan pemantauan terhadap proyek pengembangan perangkat lunak di seluruh dunia dan melakukan penilaian. Kriteria pemilihan yang digunakan adalah inovasi dalam software tersebut. InaSAFE menjadi salah satu pemenang penghargaan Open Source Rookie of The Year 2012 karena inovasinya untuk memadukan teknologi, ilmu pengetahuan dan pengetahuan praktis dalam penanganan bencana.
 
InaSAFE
 
Untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi bencana, seperti banjir, gempa bumi, tsunami, erupsi gunungapi dan sebagainya secara efektif yang akan terjadi di masa depan, kita harus terlebih dahulu memahami dampak yang mungkin terjadi dan perlu dikelola. Bahkan hingga scenario terburuk dari potensi bencana yang ada. Misalnya, untuk mempersiapkan rencana tanggap darurat bencana banjir yang besar, maka pelaku penanganan darurat perlu menjawab pertanyaan seperti:
- Berapa luas daerah yang terendam?
- Obyek apa saja yang kemungkinan akan terpengaruh?
- Berapa banyak orang yang perlu dievakuasi dan perlu perlindungan?
- Berapa sekolah akan ditutup?
- Berapa rumah sakit masih dapat menerima pasien?
- Berapa kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, obat-obatan, sanitasi dan sebagainya yang diperlukan? Dan sebagainya.
InaSAFE menyediakan cara sederhana untuk menggabungkan data dari ilmuwan, pemerintah daerah dan masyarakat untuk memberikan wawasan ke dalam kemungkinan dampak peristiwa bencana di masa depan. Perangkat lunak ini difokuskan untuk menilai secara rinci, dampak bencana yang akan terjadi pada sektor-sektor tertentu, misalnya lokasi sekolah dasar dan perkiraan jumlah peserta didik yang terkena tsunami yang mungkin terjadi seperti di Maumere, misalnya, ketika itu terjadi selama jam sekolah.
 
Persiapan menghadapi bencana yang efektif perlu melibatkan  orang-orang dari berbagai sektor dan latar belakang untuk secara efektif bekerja sama dan berbagi pengalaman mereka, keahlian, dan sumber daya. Menggunakan InaSAFE untuk mengembangkan skenario menghadapi bencana juga membutuhkan semangat untuk bekerjasama, berbagi keahlian, dan berbagi data.
 
InaSAFE dirancang untuk menggunakan dan menggabungkan data dari berbagai sumber seperti data yang ada dari berbagai kementerian, lembaga, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat sendiri. InaSAFE juga dapat menggunakan data open source yang sudah tersedia di internet, tapi masih banyak daerah yang tidak tersedia datanya.  Untuk mengatasi masalah ini, tim InaSAFE mengajak kerjasama dengan Universitas setempat, pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya untuk membuat peta daerah masing-masing. Semakin banyak masyarakat, ilmuwan dan pemerintah yang menyediakan data dan pengetahuan, maka skenario InaSAFE akan lebih realistis untuk digunakan.
InaSAFE dikembangkan oleh BNPB, AIFDR dan Bank Dunia pada tahun 2011 hingga sekarang. Agar dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh berbagai kalangan baik di Indonesia atau negara lain maka InaSAFE dikembangkan dengan basis software open source dengan lisensi GPL. InaSAFE adalah proyek Python dibangun di atas proyek QuantumGIS (QGIS) sebagai plugin QGIS. Hal ini dirancang sebagai platform extensible yang dapat digunakan untuk menilai dampak dari setiap jenis bencana didukung oleh data populasi geografis dari hampir semua geografi.

Penggunaan pemetaan berbasis masyarakat dalam InaSAFE ternyata sangat efektif. Sebagai misal untuk memetakan daerah rawan banjir Jakarta beserta batas-batas administrasi hingga batas RW, jumlah bangunan yang terdampak dan sebagainya hanya memerlukan waktu 2 minggu. Yang memetakan adalah lurah dan aparat kelurahan yang memahami kondisi lapangan setelah melalui pelatihan dan pendampingan. Dalam prakteknya beberapa negara telah meminta BNPB melatihkan InaSAFE ke negara-negara lain, seperti Philipina, negara-negara di kawasan ASEAN, Afrika, Pasifik dan sebagainya. Tentu ini menjadi salah satu kebanggaan, sekaligus tantangan bagi kita untuk selalu menjadi lebih baik.
 
DR. Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

Related posts