Hotspot Fluktutif Dan Asap Masih Meluas

JAKARTA - Seiring makin keringnya musim kemarau, maka hotspot kebakaran hutan dan lahan juga masih belum dapat dimatikan. Hotspot di Sumatera dan Kalimantan fluktuatif jumlahnya. Wilayah yang terbakar pun meluas hingga Kalimantan Timur. Pantauan Satelit Terra Aqua pada Minggu (18/10) pukul 07.00 WIB di Sumatera terdapat 1.085 titik yaitu  Jambi 108, Kepri 10, Riau 57, Sumsel 871, Lampung 39. Sedangkan di Kalimantan 212 titik tersebar di Kalbar 36, Kalsel 11, Kalteng 156, Kaltim 9. Hotspot di Kalimantan ini kemungkinan lebih banyak karena sensor satelit tidak mampu menembus pekatnya asap di Kalteng.   Sebaran asap juga meluas. Berdasarkan citra satelit Himawari, sebaran asap meluas lagi hingga Singapore dan Malaysia meski dengan kepekatan sedang. Di Kalimantan hampir seluruh wilayah Kalimantan terkepung asap. Kondisi demikian menyebabkan jarak pandang berkurang. Pada pukul 10 WIB, jarak pandang di Pekanbaru 800 m, Kerinci 100m, Jambi 500 m, Palembang 5 km, Pontianak 1,8 km, Sntang 600 m, Palangkaraya 800 m, Muara Teweh 100 m, dan Tarakan 500 m. Kualitas udara (PM10) di Pekanbaru 207 ugr/m3 (Tidak Sehat), Jambi 515 (Berbahaya), Palembang 305 (Sangat Tidak Sehat), Pontianak 299 (Sangat Tidak Sehat), dan Palangkaraya 1.200 (Berbahaya).   Upaya pemadaman terus dilakukan. Luasnya wilayah yang terbakar dan hostpot yang menyebar menyebabkan pemadaman mengalami kendala. Kebakaran di Pedamaran, Tulung Selapan dan Air Suginan Kab OKI, Sumatera Selatan sangat besar. Tim Australia, Malaysia, dan Singapore mengatakan api masih besar dan sulit dipadamkan karena angin kencang dan hutan lahan yang terbakar luas. Bahkan personil Australia, mengatakan baru sekali ini menemukan kebakaran hutan lahan yang begitu besar selama 30 tahun dia bekerja memadamkan api.   Bahan kimia sudah digunakan untuk pemadaman api dan memang efektif. Namun belum semua hotspot dapat dipadamkan. Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Related posts