Gubernur Jawa Tengah Membuka Pertemuan ACDM ke-28

SEMARANG – Negara-negara yang tergabung dalam Association Southeast Asian Nations (ASEAN) berada di kawasan rawan bencana. Hampir semua jenis bencana seperti gempabumi, erupsi gunungapi, tsunami, banjir, siklon, longsor, kekeringan, memberikan dampak kerugian yang sangat besar di kawasan ini. Kerugian triliunan rupiah, korban meninggal, menderita maupun kerusakan infrastuktur mendorong negara-negara ASEAN untuk membangun ketangguhan atau resilience bersama.
Konteks tersebut merupakan tema besar “Masyarakat Satu ASEAN yang Lebih Tangguh” dalam pertemuan ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) ke-28 yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai focal point penanggulangan bencana Indonesia, pada Selasa (26/4), di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Pada sambutan pembukaan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan “Jawa Tengah adalah supermarket dan laboratorium bencana, dan kita bisa belajar dari sini untuk penanganannya.” Ganjar menekankan bahwa kearifan lokal sangat penting dalam mengambil peran membangun ketangguhan masyarakat. Menurut Ganjar, banyak kearifan lokal yang dapat menumbuhkan kerjasama dan gotong royong dalam menghadapi bencana. “Kami mengembangkan kearifan lokal, seperti memanfaatkan kembali alat-alat tradisional oleh warga,” tambah Ganjar.
Ganjar mencontohkan pemanfaatan kentongan yang terbuat dari bambu,”tuk..tuk.. (satu kali),” yang memberitahukan bahwa ada orang meninggal. Tuk-tuk …tuk-tuk (dua kali) menandakan ada maling, tiga kali kebakaran, dan tuk-tuk (empat kali) ada banjir. 
“Ini ketangguhan secara tradisional yang ditumbuhkan untuk menghadapi bencana,” tambah Ganjar yang mendorong pemerintahannya, baik kabupaten dan kota, yang tangguh bencana dan menempatkan warganya sebagai subyek dalam penanggulangan bencana.
Gubernur Ganjar sangat terbuka dalam pengkombinasian antara pendekatan tradisional dan modern dalam penanggulangan bencana. Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Jawa Tengah juga memanfaatkan kecanggihan teknologi seperti berbasis website maupun penggunaan media sosial.    
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan bahwa respon bersama “One ASEAN One Response” di antara negara-negara ASEAN sangat penting. “Setiap negara mengalami tantangan untuk menghadapi multi bencana dan kerentanan. ASEAN setiap saat dapat terdampak bencana,” kata Willem. 
Menurut Willem, ini mendorong ASEAN untuk menumbuhkan kerjasama kemanusiaan, pengurangan risiko bencana dan membangun ketangguhan di kawasan ini. “ASEAN harus siap untuk bekerjasama dan mendukung dalam upaya-upaya membantu pemerintah dan masyarakat yang terdampak bencana,” tambah Willem di hadapan delegasi negara-negara ASEAN Brunei, Kamboja, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Menurut  Laporan United Nations Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR, 2010) menyebutkan bahwa siklon merupakan bencana yang paling mematikan di kawasan ASEAN, menyebabkan kerugian bagi kehidupan masyarakat, infrastuktur, pertanian, dan sebagainya. UNISDR mencatat berbagai bencana besar di ASEAN seperti, , erupsi gunungapi Pinatubo 1991, kekeringan Vietnam 1997, tsunami Aceh 2004, gempabumi Yogyakarta 2006, siklon Nargis 2008.

Di samping itu, temuan UNISDR pada periode 1970 – 2009 bahwa kerentanan sosial terhadap bencana sangat tinggi. Masyarakat Myanmar memiliki indeks kerentanan paling tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN, kemudian diikuti oleh Indonesia dan Filipina. Pada periode tersebut, bencana-bencana yang terkait dengan hidrometeorologi sangat dominan berdampak di ASEAN, seperti siklon, banjir, longsor dan kekeringan. 

Dr. Sutopo Purwo Nugroho, APU
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas


Related posts