Gerakan Sekolah Sungai Untuk Pengurangan Resiko Bencana

KLATEN – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei meresmikan gerakan sekolah sungai untuk pengurangan resiko bencana di Kali Woro Purba, Klaten, Jawa Tengah, pada minggu (7/8).

Sebelum meresmikan acara tersebut, Kepala BNPB meninjau stand pameran produk-produk lokal Klaten, kemudian melepaskan ratusan benih ikan di Sungai Woro serta memberikan bantuan berupa buku-buku bacaan sekaligus meresmikan perpustakaan sekolah sungai sebagai simbol gerakan pengurangan resiko bencana.

Kepala BNPB dalam pidatonya memaparkan bahwa upaya penurunan indeks resiko bencana melalui program pengurangan resiko bencana terus digalakan, gerakan sekolah sungai ini adalah salah satu upaya dalam rangka mewujudkan upaya pengurangan resiko bencana. Keterlibatan dan partisipasi masyarakat sangat penting dalam pelaksanaan gerakan sekolah sungai ini, karena BNPB mempunyai fokus pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat.

Direktur Pengurangan Resiko Bencana BNPB Lilik Kurniawan, ST, M.Si., dalam laporannya mengatakan bahwa gerakan sekolah sungai ini sebagai salah satu perwujudan dalam gerakan nasional pengurangan resiko bencana yang diinisiasi bersama oleh BNPB, UGM serta komunitas sungai di Yogyakarta dan Klaten.

Tujuan dari gerakan sekolah sungai ini adalah  untuk melatih dan membekali calon fasilitator sehingga menumbuhkan komitmen dan meningkatkan kapasitas dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya air dan sungai didaerahnya dalam rangka gerakan pengurangan resiko bencana. Terciptanya jejaring atau komunikasi pinggiran sungai sebagai agen restorasi sungai sebagai bagian dari pengkaderisasi dalam memperkuat dan mengembangkan gerakan pengurangan resiko bencana.

Kearifan lokal juga ditampilkan dalam gerakan sekolah sungai ini, yaitu dengan menggelar pertunjukkan trasdisional daerah berupa ketoprak yang berisi nilai-nilai pengurangan resiko bencana.

Pelaksanaan pembekalan fasilitator ini diselenggarakan di Klaten dan Yogyakarta tanggal 7 - 13 Agustus 2016, dengan peserta berjumlah 48 orang, meliputi fasillitator daerah dari komunitas dan masyarakat yang dilalui sungai Begawan Solo yang terdiri dari 10 kab/kota di Jawa Timur dan 6 kab/kota di Jawa Tengah.

Related posts