Gerakan Nasional Pengurangan Risiko Bencana

KLATEN- Kepala BNPB Willem Rampangilei hadiri acara gerakan nasional pengurangan Risiko bencana di Klaten, Jawa Tengah pada (13/11). Dalam sambutannya, Willem mengatakan, Indonesia terus menghadapi tantangan yang semakin besar dalam mengelola dan mengurangi risiko bencana serta perubahan iklim yang semakin meningkat. Data antara tahun 2002-2015 menunjukkan bahwa jumlah kejadian bencana dari Tahun ke Tahun selalu meningkat, dan hampir 80%-nya merupakan bencana hidro-meteorologis. Kecenderungan naiknya frekuensi terjadinya bencana hidrometeorologis ini disertai dengan dampak bencana yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, kerugian ekonomi, serta kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur kritis. Selain itu, peningkatan dampak bencana hidro-meteorologis ini juga terjadi akibat besarnya pengaruh manusia dan pembangunan yang kurang memperhatikan upaya pengurangan risiko bencana dan keseimbangan lingkungan. Untuk mengurangi risiko bencana dan potensi kerugian ekonomi akibat bencana di masa yang akan datang, Indonesia perlu mempromosikan “gerakan nasional pengurangan risiko bencana-Menuju Indonesia yang Tangguh, Berkelanjutan dan sejahtera. Gerakan ini akan menjadi bagian dari komitmen politik untuk melaksanakan revolusi karakter bangsa, yang salah satunya adalah dengan menciptakan budaya aman. Selain itu gerakan ini akan memberi penekanan pada upaya menghubungkan manajemen risiko bencana dengan pengurangan kemiskinan dan pembangunan social ekonomi di pedesaan dan kawasan-kawasan perkotaan dengan penduduk miskin, ujar Willem.

Sementara itu Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Bernardus Wisnu mengatakan," mulai tahun 2016, BNPB telah memfasilitasi pelaksanaan Gerakan Pengurangan Risiko Bencana di 23 kab/kota yang masuk dalam aliran DAS Bengawan Solo dan Citarum dimana masing-masing telah membentuk 1.000 relawan sungai. Tahapan kegiatan yang dilaksanakan dalam Gerakan Pengurangan Risiko Bencana diantaranya, pembentukan fasilitator relawan sungai, sosialisasi pengelolaan sungai kepada masyarakat dan pemerintah daerah,desiminasi informasi melalui media cetak dan elektronik, dan apel bersih-bersih sungai yang dipimpin oleh kepala daerah. Pelaksanaan gerakan pengurangan risiko bencana yang telah dilakukan dibeberapa daerah tersebut telah memberikan hasil yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kepala daerah telah berkomitmen untuk meneruskan keberlanjutan kegiatan ini. Kepala daerah sangat mendukung kegiatan ini dan berharap dapat direplikasi di banyak tempat dan dapat dilakukan secara rutin, ujar Wisnu.

Kegiatan Pencanangan Gerakan Nasional Pengurangan Risiko Bencana dilakukan dengan tujuan untuk mewujudkan komunitas yang mampu mengelola dan mengurangi risiko bencana serta meningkatkan kualitas hidup. Manfaat yang didapatkan adalah terwujudnya lingkungan sungai yang bersih dan produktif serta dapat mengurangi risiko bencana serta kerusakan lingkungan. Pencanangan Gerakan Nasional Pengurangan Risiko diikuti sebanyak 11.000 relawan sungai yang berasal dari masyarakat, komunitas, pelajar, TNI, Polri, dan organisasi masyarakat di Kabupaten Klaten. Kegiatan ini juga dihadiri oleh BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota Se-Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan DIY.

Pada kegiatan pencanangan gerakan nasional pengurangan risiko bencana ini adanya dukungan dari berbagai pihak diantaranya Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Universitas Gadjah Mada, srikandi sungai yang memberikan bantuan bibit sayuran dengan memanfaatkan botol bekas dan tas ramah lingkungan. Sedangkan dapur umum untuk mendukung penyediaan konsumsi peserta dibantu oleh Tagana, PMI, LPB Muhamadiyah, BPBD Jawa Tengah, dan masyarakat sekitar. Pihak swasta juga turut berpartisipasi dengan membantu menyediakan konsumsi dan perlengkapan bersih sungai.

Beberapa rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan pada kegiatan ini adalah Pencanangan Gerakan Nasional Pengurangan Risiko Bencana, Pengukuhan Srikandi Sungai, Pengukuhan Pelajar Duta Sungai, Penyerahan peralatan bersih sungai, dan pelaksanaan bersih-bersih sungai oleh 11.000 relawan. (adi)


Related posts