Edukasi dan Komunikasi sebagai Kunci Pengurangan Risiko Bencana

JAKARTA – Sebagai negara yang dikelilingi oleh tiga lempeng tektonik aktif, Indonesia menjadi negara yang rawan bencana, terutama bencana gempabumi dan tsunami. Beragam bencana yang terjadi dengan banyaknya korban dan kerusakan, masih banyak masyarakat yang belum memahami ancaman risiko bencana yang ada disekitar mereka.

Pengetahuan akan pengurangan risiko bencana ternyata masih jauh dari cara penyampaian dan implementasi nyata yang harus dilakukan. “Dengan beragam bencana yang terjadi di Indonesia, pengetahuan akan pengurangan risiko bencana sudah baik diterima oleh masyarakat, namun kita masih sangat kurang dalam cara penyampaian dan membentuk sikap nyata sebagai mengimplementasi langkah yang harus dilakukan setelah memahami ancaman bahkan saat bencana terjadi,” ujar Prof. Dr. Ronald A. Harris, Dosen dari Brigham Young Univ., Utah, USA pada Seminar Geologi Kesiapsiagaan Bencana Gempabumi dan Tsunami dengan tema “Indonesia Rawan Gempabumi dan Tsunami: Apa yang harus dilakukan?” di Gedung PBNU, Jakarta. (29/11)

Sangat penting untuk menyampaikan fakta adanya risiko bencana kepada masyarakat. Menurut Ronald Harris, transparansi komunikasi adalah kunci dari pengurangan risiko bencana. Mengetahui ancaman berarti kita bisa mengetahui apa yang harus dipersiapkan. Untuk itu diperlukan kolaborasi dari banyak pihak dalam menyampaikan tentang pengurangan risiko bencana.

Bencana sendiri merupakan tanggungjawab bersama. Tanggungjawab tentang pengurangan risiko bencana adalah tanggungjawab masing-masing orang. Yang terancam, yang tahu, yang tinggal di wilayah risiko bencana adalah masyarakat sendiri, sehingga masyarakat harus mampu menyelamatkan diri sendiri dengan edukasi bencana yang dimiliki. Karena bencana sesungguhnya bukanlah gempabumi dan tsunami, tapi ketidaktahuan akan ancaman bencana yang ada disekitar kita.

Pengetahuan akan kebencanaan tidak diberikan untuk membuat ketakutan dan kepanikan di tengah masyarakat, namun sebagai langkah kesiapsiagaan dan kewaspadaan yang harus diciptakan agar masyarakat dapat hidup harmonis dengan alam. “Kita harus optimis, setiap bencana yang terjadi pasti ada solusi. Bencana yang terjadi di Indonesia selalu unik, pengaruh yang ditimbulkan juga selalu berbeda. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mampu melakukan langkah-langkah pengurangan risiko bencana. Tidak ada yang pernah siap ketika bencana terjadi, tapi kita bisa lebih siap dari hari yang kemarin, kita akan lebih siap besok daripada hari ini,” ungkap Ir. B. Wisnu Widjaja, M.Sc, Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Wisnu juga menekankan tentang empat komponen penting dalam pengurangan risiko bencana, antara lain pemahaman tentang risiko bencana yang ada dimanapun kita berada, memperkuat tata kelola dan manajemen risiko bencana sehingga mengetahui apa yang harus dipersiapkan, investasi dalam pengurangan risiko bencana untuk ketangguhan seperti dengan membangun rumah tahan gempa dan mengembangkan sistem peringatan diri serta meningkatkan kesiapsiagaan untuk respon yang efektif melalui pelatihan dan simulasi yang dilakukan secara berkala.

Untuk mengetahui tentang risiko bencana yang ada disekitar kita, Wisnu juga memperkenalkan InaRisk kepada para peserta seminar. Melalui InaRisk masyarakat dapat menilai kondisi rumah mereka apakah tahan gempa dengan mengisi beberapa pertanyaan dalam InaRisk dan penilaian yang diberikan berdasarkan kondisi dari rumah masyarakat itu sendiri, sehingga mereka dapat mengetahui kondisi rumah seperti apa yang harus ditingkatkan ketahanannya terhadap bencana.

Pemaparan beragam materi yang dipandu oleh J. Victor Rembeth dari Save The Children selaku moderator dilanjutkan dengan penjelasan mengenai sharing data kebencanaan seputar gempabumi dan tsunami oleh Dr. Daryono, S.Si, M.Si, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), peran para akademisi dan generasi muda dalam memanfaatkan teknologi guna mendukung kegiatan pengurangan risiko bencana dan mitigasi bencana gempabumi dan tsunami dengan menjadi jembatan komunikasi kepada masyarakat tentang pengetahuan kebencanaan oleh Dr. N. Rahma Hanifa dari U-Inspire, serta penampilan nembang tradisional serta rekomendasi pengurangan risiko bencana melalui evakuasi mandiri hingga pemberian pengetahuan trasidisonal terkait bencana oleh Dr. Eko Yulianto, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Indonesia dapat merubah apa yang selama ini  dilakukan agar perilaku pengurangan risiko bencana dapat diciptakan secara dua arah, dari dari bawah ke atas dari lingkaran sosial paling kecil yaitu keluarga sampai institusi pemerintahan maupun sebaliknya, karena kunci dari pengurangan risiko bencana adalah edukasi dan komunikasi. Dengan begitu Indonesia akan mampu menciptakan budaya sadar bencana melalui ketangguhan masyarakat yang siap untuk selamat dengan mengetahui langkah-langkah pengurangan risiko bencana.

 

 

Agus Wibowo

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

Related posts