Doni Monardo Ajak Gubernur dan Menteri Tinjau Banjir

Catatan awal tahun 2020

 

Hampir setahun memimpin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo tak pernah libur. Warna merah dalam kalender jelas bukan dibuat untuknya. “Salus populi suprema lex,” begitu Doni acap mengutip Cicero, filsuf Romawi yang bermakna, “keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.”

 

Syahdan, ketika sebagian besar rakyat Indonesia merayakan malam pergantian tahun (31/12/2019), Doni Monardo justru tak nyenyak tidur. Pasalnya, hujan yang turun sejak sore, tak juga kunjung reda hingga tengah malam. Bahkan kemudian diketahui sampai pagi, hujan masih mengguyur ibukota. “Alamat banjir…,” pikirnya.

 

Benar. Hari pertama tahun 2020, ibukota dilanda banjir besar. Data pantauan BNPB 1 Januari 2020 pukul 14.30, terdapat 41 titik banjir menggenangi wilayah Jakarta. Jakarta Selatan menjadi daerah dengan genangan terbanyak, 22 titik banjir. Kemudian Jakarta Timur 11 titik banjir, Jakarta Barat 5 titik banjir, Jakarta Utara 2 titik banjir, dan Jakarta Pusat 1 titik banjir.

 

Di wilayah penyangga, tercatat Kota Bekasi sebagai daerah terparah tergenang banjir, yakni 39 titik banjir. Berikutnya Kabupaten Bekasi 15 titik banjir, Tangerang Selatan 5 titik bajir, Kota Tangerang 2 titik banjir, dan Kabupaten Tangerang 1 titik banjir.

 

Cepat BNPB mengidentifikasi tiga hal yang menjadi kebutuhan mendesak. Pertama, perahu karet, terpal selimut, pakaian dewasa dan anak-anak. Kedua, paramedis, obat-obatan dan trauma healing. Ketiga, makanan, minuman, air bersih dan MCK.

 

Masyarakat yang terdampak banjir, sebagian sudah mengungsi ke tempat aman. Untuk sementara PLN memadamkan aliran listrik di beberapa titik banjir. Sedangkan, akibat banjir juga mengakibatkan putusnya akses jalan di beberapa daerah.

 

Sementara, informasi dari BMKG mencatat, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi berada di wilayah Bogor pada tanggal 31 Desember 2019 – 1 Januari 2020. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tinggi muka pintu air Katulampa lebih dari 110 cm pada pukul 22.00 WIB (31/12/2019).

 

Hal itu menimbulkan luapan sungai Ciliwung sehingga mengakibatkan banjir di beberapa titik wilayah Jakarta dan sekitarnya. Untuk itu, BPBD DKI Jakarta sudah mengeluarkan peringatan dini. BPBD DKI Jakarta bersama unsur terkait terus melakukan pendataan dampak banjir dan longsor, serta menyediakan kebutuhan mendesak seperti evakuasi korban dan bantuan logistik. Warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, diminta mengungsi ke tempat aman.

 

Pada tanggal 27 Desember 2019 Doni juga sudah bertandang ke kantor BPBD DKI dan mengingatkan agar segera melakukan apel kesiapsiagaan untuk banjir Jabodetabek, kata Egy Massadiah

 

Sementara itu, di Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Pusat tampak kesibukan luar biasa sejak pagi hari di hari pertama tahun 2020. Bahkan lebih sibuk dari hari kerja. Beberapa pekerja tampak membersihkan landasan helikopter di atas gedung. Hari itu dijadwalkan pukul 13.30 WIB, Kepala BNPB akan memantau kondisi banjir di Jakarta dan sekitarnya, bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

 

Benar. Jelang pukul 12.00, hadir Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margiono. Tak lama kemudian, “Jakarta-01” Anies Baswedan menyusul. Di hadapan Pangdam Jaya dan Gubernur DKI Jakarta, Doni Monardo memaparkan sekilas tentang kondisi terkini banjir di Jakarta, dari berbagai sumber yang ia terima. Gubernur Anies tampak terus memantau keadaan dengan sebentar-sebentar melihat ke layar handphone yang digenggamnya.

 

Di tengah dialog, muncul Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, ikut bergabung. Ketika dipersilakan duduk di ujung meja, ia menolak, dan memilih duduk di samping Doni Monardo. Tidak lama kemudian, mereka bersiap berangkat.

 

Semula heli akan terbang dari helipad BNPB lantai 16 Jalan Pramuka. Namun karena alasan teknis maka penerbangan untuk peninjauan dipindahkan ke lapangan sisi Timur Monas Jakarta Pusat. “Total ada tiga unit heli yang digunakan meninjau,” ujar Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB di lapangan.

 

Sejumlah wartawan dari media cetak dan elektronik juga hadir di Graha BNPB. Akhirnya, para wartawan pun menuju sisi timur Monas. Karena hanya tiga unit helikopter yang tersedia, maka tidak semua wartawan bisa ikut memantau banjir dari udara Jakarta. “Tetapi saya pastikan, teman-teman akan mendapatkan gambar yang bagus,” ujar Egy Massadiah.

 

Egy menambahkan, langkah BNPB hari ini adalah gerakan tulus yang mendapat apresiasi banyak pihak. Tak perlu disuarakan secara khusus namun alam ikut menggemakan karena dilandasi hati ikhlas, kepedulian yang tinggi. Sebuah derap tanpa pamrih. Keselamatan nyawa manusia adalah hukum tertinggi. Catatan sejarah awal tahun telah menulisnya, dengan jejak yang abadi.

 

Hujan Ekstrem

 

Salah satu faktor penyebab banjir di Jabodetabek adalah curah hujan. Seberapa besar curah hujan tahun baru 2020 di Jakarta? Berikut adalah informasi curah hujan yang disampaikan oleh BMKG.

 

Kota Jakarta sudah sering dilanda banjir besar, berikut ini data intensitas curah hujan pada saat terjadi BANJIR BESAR dan tahunnya. Tahun 1996: 216 mm/hari, 2002: 168 mm/hari, 2007: 340mm/hari, 2008: 250mm/hari, 2013: 100mm/hari, 2015: 277mm/hari, dan 2016: 100 – 150 mm/hari

 

Lalu berapakah curah hujan Jakarta di pergantian tahun 2020 hari ini?  Data dari beberapa titik pengukuran adalah sbb: TNI AU Halim: 377 mm, Taman Mini: 335 mm, Jatiasih: 259 mm.

 

Hujan tahun baru kali ini sangat ekstrem dan melanda sebagian besar Jawa bagian Barat-Utara sehingga menyebabkan banjir besar dan merata di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung Barat, bahkan Cikampek dan Cipali. Hujan kali ini bukan hujan biasa.

 

BMKG memprediksi masih terjadi hujan pada hari ini sehingga masih mungkin terjadi banjir lagi. BNPB menghimbau kepada masyarakat yang tinggal di daerah yang potensi banjirnya akan meninggkat agar evakuasi ke tempat aman terlebih dahulu. “Yang penting selamatkan jiwa terlebih dahulu,” demikian imbauan dari Kepala BNPB Letjen Doni Monardo. (rr)

Related posts