Delegasi Senegal Kunjungi BNPB

Jakarta, sebanyak 5 orang dari delegasi Senegal, yang tergabung dalam Islamic Development Bank (IDB) yang didampingi oleh Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala sebanyak 4 orang berkunjung ke kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada (11/12). Kunjungan tersebut dterima oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas, DR. Sutopo Purwo Nugroho, dalam sambutannya, menuturkan, selama ini BNPB telah mendata kejadian bencana di Indonesia, pada perkembangannya tiap tahun terjadi peningkatan bencana.  Sebagian besar bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi berupa banjir, longsor, puting beliung, kekeringan, gelombang pasang dan lain-lain. Bahkan tren bencana hidrometeorologi, ini cenderung terus meningkat baik intensitas, frekuensi, magnitude, maupun sebarannya. Sedangkan bencana tsunami pernah beberapa kali terjadi di Indonesia, seperti tsunami di Flores pada 1992 menyebabkan 2150 orang tewas dan hilang. Begitu juga tsunami di Banyuwangi 1994 ada 238 orang tewas. Di Biak 1996 menyebabkan 60 orang tewas dan 134 orang hilang.  Oleh karena itu diperlukan penanganan yang efektif guna meminimalisir dampak kejadian bencana. 

Sedangkan Madame Marie NDAW , Directeur technique ADM/PROGEP dari Senegal, menuturkan, tujuan kedatangan kami ke kantor BNPB ingin mempelajari penanganan bencana, khususnya penanganan banjir dan longsor. Karena di negara kami kejadian bencana banjir dan longsor frekuensinya cukup tinggi. Indonesia sebagai negara yang rawan bencana tentu memiliki sistem penanganan bencana yang lebih berpengalaman.

Sementara itu, Kepala Bidang Data, DR. Agus Wibowo, dalam paparannya, menuturkan “meningkatnya bencana hidrometeorologi di Indonesia disebabkan oleh kerusakan lingkungan akibat ulah manusia dan faktor perubahan iklim. Faktor kerusakan yang paling sering terjadi terdapat pada daerah yang memiliki aliran sungai dan di daerah perbukitan yang memiliki struktur tanah yang tidak stabil akibat tidak adanya pepohonan yang rindang sehingga terjadi bencana longsor. Akan tetapi, fenomena peningkatan frekuensi dan daerah yang mengalami  dampak akibat puting beliung menunjukan pengaruh yang sangat besar bagi perubahan iklim.” (Rsp)

Related posts