DAMPAK BENCANA TERHADAP EKONOMI INDONESIA (Bagian 2)

Kebakaran akan memusnahkan flora, fauna dan biodiversitas ekosistem di darat. Sebagai gambaran kebakaran lahan dan hutan di Indonesia pada 1997 menimbulkan emisi 0,8-2,6 milyar ton CO2 ke atmosfer atau setara dengan 13-40% emisi CO2 kebakaran hutan pada tahun tersebut di dunia. 

Dampak sosial antara lain berkurangnya sumber mata pencaharian, kurangnya ketersediaan air, sekolah libur, dan lainnya. Dampak kesehatan seperti gangguan ISPA, iritasi mata, asma, batuk dll. Saat ini dampak kesehatan di Riau penderita ispa 30.249 orang, pneumonia 562 orang, asma 1.109 orang, iritasi mata 895 orang, dan iritasi kulit 1.490 orang. Sedangkan dampak politis adalah jika asap sampai lintas batas negara menjadi isu politik. 


Biaya untuk menanggulangi bencana juga besar. Penanganan darurat erupsi G. Sinabung BNPB mengalokasikan Rp 148 milyar. Penanganan bencana asap di Sumatera dan Kalimantan, BNPB menganggarkan Rp 300 milyar. Penanganan darurat erupsi G.Kelud, Pemda Jatim menganggarkan Rp 1 trilyun. Sedangkan untuk penanganan pasca bencana banjir dan longsor di 16 kab/kota di Jateng butuh Rp 3,59 trilyun. Penanganan pasca bencana banjir bandang di Sulut butuh Rp 1,03 trilyun. Sementara itu, dana cadangan penanggulangan bencana per tahun hanya ada Rp 3 trilyun, untuk darurat Rp 1,5 trilyun dan pasca bencana Rp 1,5 trilyun, untuk penanganan bencana di seluruh Indonesia. Tentu saja kurang untuk memenuhi semua kebutuhan yang ada, karena itu perlu didorong agar APBD juga mengalokasikan dana untuk penanganan bencana yang memadai. 

Tak kalah penting adalah bagaimana penanggulangan bencana menjadi prioritas pembangunan, baik di pusat maupun di daerah. Jika tidak, maka bencana dan pembangunan tak ubahnya seperti lingkaran setan yang saling bersimbiosis parasitisme.


DR. Sutopo Purwo Nugroho 

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Related posts