Cegah Dampak Asap: Masyarakat Sumsel Dihimbau Terus Gunakan Masker

PALEMBANG – Pada hari ini (16/10) titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan tidak terdeteksi. Situasi ini kemungkinan disebabkan kepekatan asap kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera Selatan. Secara kasat mata, asap pada hari ini memang tampak lebih tebal dibandingkan dengan kemarin (15/10).

Pemerintah daerah setempat telah melakukan sosialisasi dan mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker apabila beraktivitas di luar rumah. Meskipun pengukuran kualitas udara menggunakan angka-angka dan kategori, terkadang masyarakat tidak dapat membayangkan angka dan kategori tersebut. Langkah yang paling penting untuk mencegah dampak asap terhadap kesehatan adalah menggunakan masker. 

Masyarakat tampak permisif dengan tidak menggunakan masker pada saat beraktivitas di luar rumah. Hal ini perlu diwaspadai mengingat masyarakat tidak dapat menilai secara sederhana berapa angka kualitas udara yang mereka hirup. 

Menyikapi dampak asap, Gubernur Sumatera Selatan telah mengeluarkan surat edaran yang salah satu isinya meminta kepada Unit Pelayanan Kesehatan untuk siap siaga memberikan pelayanan 24 jam. Unit pelayanan kesehatan tersebut mencakup rumah sakit, puskesmas, pustu, dan poskesdes. 

Citra satelit Moderate-resolution Imaging Spectroradiometer atau MODIS tidak mendeteksi titik panas atau hotspot pada hari Jumat (16/10), pukul 16.00 WIB. Namun data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa salah satu indikator kualitas udara yang diukur dengan konsentrat partikulat (PM10) pada kategori tidak sehat. Kualitas udara berdasarkan data BMKG pada angka 166,85ugr/m3, pukul 19.00 WIB. Di sisi lain, pantauan satelit National Aeronautics and Space Administration (NASA) menunjukkan adanya konsentrasi karbon monoksida yang tinggi.

Related posts