BNPB Resmikan Pusat Pengendalian Operasi BPBD Klaten dan Boyolali

BOYOLALI (26/2) - Guna mengurangi risiko saat terjadi bencana dan mengintegrasikan seluruh elemen kebencanaan, BNPB meresmikan gedung Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kamis pagi di kantor BPBD Klaten. Peresmian dilakukan oleh Kepala Pusat Data , Informasi dan Humas BNPB DR. Sutopo Nugroho M.Si. APU dan anggota Komisi VIII DPR-RI Endang Sritarti Handayani, SH, M.Hum. Acara ini juga dihadir Bupati Klaten Sunarna, Kepala BPBD Propinsi Jawa Tengah Sarwa Pramana, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Klaten Sri Winoto dan berbagai komunitas Gunung Merapi. Peresmian ditandai dengan pengoperasian gedung dan peralatan yang 24 jam memantau dan mengendalikan operasi yang berkaitan dengan kebencanaaan. Pada kesempatan ini rombongan juga mengunjungi wahana bermain yang mendukung program pembelajaran kebencanaan untuk siswa PAUD. Sri Winoto mengatakan, program pembelajaran kebencanaan bagi siswa PAUD ini adalah yang pertama di Indonesia. Ia berharap, kegiatan tersebut menjadi program jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang tangguh bencana dan menumbuhkan kesadaran sejak dini. Seusai peresmian Pusdalops BPBD Klaten, di hari yang sama rombongan melanjutkan perjalanan ke Boyolali untuk meresmikan Pusdalops BPBD Boyolali. Acara kali ini dihadiri Sekda Boyolali Sri Ardiningsih, Kapolres Boyolali AKBP Budi Sartono dan Dandim 0724/Boyolali Letkol Kav Topri Daeng Balaw. Endang Srikarti Handayani, pada kesempatan ini menyatakan siap memfasilitasi aspirasi yang masuk untuk disampaikan ke pemerintah pusat. Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, dari 431 BPBD se-Indonesia, Boyolali dan Klaten merupakan dua dari empat Pusdalops BPBD yang berstandar kelas A atau berstandar internasional. Dua Pusdalops lainnya juga berada di kawasan cincin Merapi, yakni BPBD Magelang, dan BPBD Sleman Yogyakarta. Penempatan Pusdalops di sabuk Merapi tersebut diperlukan untuk monitoring kebencanaan, terutama aktivitas vulkanik Merapi yang termasuk gunung teraktif di Indonesia. Erupsi Merapi 2010 menjadi pelajaran yang sangat berharga, Boyolali saat itu bahkan belum mempunyai BPBD, keberadaan Pusdalops ini akan meningkatkan upaya penanganan bencana, khususnya yang berhubungan dengan Merapi. Informasi berkait aktivitas gunung Merapi dapat diketahui dan sejak dini dilaporkan. Penanganan bencana akan jauh lebih cepat dan efektif. "Ada 88 pusdalops lain di seluruh Indonesia. Tapi standarnya masih di bawah dan belum lengkap," ujar Sutopo. Untuk personel Pusdalops yang beroperasi selama 24 jam tujuh hari seminggu selain berasal dari BPBD, personel diharap berasal dari berbagai pihak, antara lain personel TNI, Polri, SAR hingga unsur Satgana PMI. Hal ini diperlukan sebab penanganan bencana melibatkan banyak pihak. Pusdalops BPBD Boyolali dan Klaten memiliki fasilitas pemantauan secara realtime dari kamera yang terpasang di kawasan Merapi. Dengan begitu, aktivitas di puncak merapi, aliran lahar hingga kondisi jalur evakuasi bisa terpantau langsung. Pusdalops memiliki sistem komunikasi dan informasi yang terhubung dengan pusat kendali operasi di Pusdalops BNPB di Jakarta dan mampu mengakses data-data dari badan lain seperti badan metereologi dan badan yang bersinggungan dengan kebencanaan.

Related posts