BNPB Luncurkan Program Katana di Aceh

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan segera meluncurkan program "Keluarga Tangguh Bencana" atau "Katana" yang mengambil lokasi di Pasie Jantang, Kecamatan Lhong, Aceh Besar, Provinsi Aceh pada Sabtu (7/12) mendatang. Program tersebut digelar sebagai bentuk penguatan kapasitas keluarga Indonesia dalam menghadapi ancaman bencana sekaligus mengurangi korban jiwa dari anggota keluarga pada saat terjadi bencana.

Hal yang melatarbelakangi lahirnya konsep tersebut adalah mengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia ke-2 setelah Haiti. Sekitar 204 juta lebih warga negara Indonesia terpapar ancaman bencana. Menurut data BNPB, pada tahun 2018 lalu angka korban meninggal dunia bahkan mencapai lebih dari 4.800 jiwa, sedangkan angka kerugian hingga Rp 3 trilyun.

Menengok dari data di atas, hal tersebut sekaligus menggambarkan tugas penanggulangan bencana menjadi tantangan berat untuk ke depannya. Sejalan dengan itu, melalui UU no 24 tahun 2007, BNPB memiliki tugas untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, termasuk dari bencana.

"Tahun 2018, jumlah korban akibat bencana mencapai 4.814 orang. Dan Indonesia menjadi negara dengan jumlah korban bencana terbanyak. Untuk itu, kita harus bersama, mengurangi korban jiwa dari bencana dengan bersinergi mensukseskan KELUARGA TANGGUH BENCANA," tegas Doni.

BNPB sebelumnya telah sukses melaksanakan penguatan kapasitas masyarakat desa di Pesisir Selatan Pulau Jawa melalui kegiatan "Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) 2019" pada 12 Juli hingga 14 Agustus 2019 lalu.

Dalam konsep Destana 2019 terdapat tujuh obyek yang diperkuat ketangguhannya di antaranya; Obyek Sarana Pendidikan, Obyek Pasar, Obyek Rumah Ibadah, Obyek Kesehatan, Obyek Vital, Obyek Perkantoran dan Obyek Permukiman. Dari ke tujuh obyek tersebut, BNPB mengambil satu sub kecil melalui Program Katana yang akan lebih fokus dalam Obyek Permukiman yang mana di dalamnya adalah keluarga. Dengan kata lain, Katana merupakan mikrokosmos dari penanggulangan bencana dari kegiatan Destana 2019 itu sendiri.

Dalam konteks bencana, keluarga menjadi fokus inti. Sehingga diharapkan dalam upaya peningkatan ketangguhan bencana dan ketahanan terhadap bencana, konsepsi katana menjadi penting dan dapat dikembangkan serta diterapkan sebagai proses yang terus menerus.

Tiga Tahapan dalam Katana

Konsep Program Katana akan menggunakan tiga tahapan sebagai syarat peningkatan kapasitas dan ketangguhan keluarga dengan masing-masing indikator keberhasilannya.

Tahap pertama ialah Sadar-Risiko Bencana. Pada tahap ini tiap-tiap keluarga akan diberikan pemahaman mengenai kesadaran dan risiko bencana di lingkungan rumahnya. Keberhasilan dari indikator ini bisa diperoleh dari seluruh peran keluarga dalam menyadari dari tempat tinggal mereka sendiri.

Tahap kedua ialah Penguatan Pengetahuan yang terbagi menjadi tiga pilar. Pilar pertama memahami infrastruktur rumah, kedua memahami manajemen bencana di sekitar rumah dengan indikator keberhasilannya yakni kemampuan dan pengetahuan anggota keluarga dalam mengenali jalur dan tempat evakuasi serta rencana-rencana tindak lanjut. Pilar ketiga ialah edukasi bencana yang memiliki indikator keberhasilan terkait pengetahuan anggota keluarga tentang bagaimana cara menyelamatkan diri.

Tahap terakhir ialah Berdaya yang merujuk kepada kemampuan menyelamatkan diri sendiri, keluarga, tetangga dan orang lain. Indikator keberhasilan pada tahap ini ialah kemampuan keluarga dalam melakukan simulasi evakuasi mandiri yang diharapkan dapat dilakukan dua kali setiap tahunnya, yakni pada setiap tanggal 26 April (Hari Kesiapsiagaan Bencana) dan 26 Desember (Hari Peringatan Tsunami Aceh).

Dalam menjalankan seluruh Program Katana, BNPB juga akan menggandeng sejumlah Kementerian/Lembaga seperti dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan program PKK, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigras (Kemendesa) dengan program Dana Desa, BKKBN dengan program KB, Kementerian Sosial (Kemsos) dengan program Keluarga Harapan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan program Pendidikan Keluarga, Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dengan program Pusat Pembelajaran Keluarga dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek Dikti).

Selain itu, BNPB juga akan menjalin mitra dengan Badan Zakat Nasional (Baznas), Palang Merah Indonesia (PMI), Pramuka, MDMC, LPBI NU, RAPI, Orari, HFI, Save the Children, FBO, dan seluruh unsur yang pernah menjadi mitra Ekspedisi Destana 2019 sebelumnya.

Agus Wibowo
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas

Related posts