BNPB Gelar Pertemuan Perencanaan Final Jelang TTX Gempabumi dan Tsunami Maluku

AMBON - BNPB menyelenggarakan pertemuan perencanaan final membahas geladi ruang ancaman gempabumi dan tsunami pada Selasa (4/10) di Kota Ambon. Geladi ruang atau table top exercise (TTX) ini merupakan kegiatan yang melibatkan komunitas internasional. Tidak hanya organisasi internasional yang akan terlibat dalam TTX tersebut tetapi negara-negara asing seperti Australia, Kamboja, Laos, dan Thailand. Sementara itu organisasi internasional yang berpartisipasi antara lain UNOCHA, UNWFP dan AHA Centre, sedangkan peserta dari Indonesia terdiri atas BNPB, Kementerian/Lembaga terkait, TNI, Polri, dinas dan badan di Provinsi Maluku, Kabupaten Maluku Tengah dan Kota Ambon. Secara keseluruhan, "Kegiatan ini bertujuan untuk memahami pentingnya upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah di semua level dalam menghadapi ancaman bencana, khususnya gempabumi dan tsunami," kata Wisnu Widjaja, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB. Wisnu menambahkan latar belakang tatanan tektonik wilayah Maluku memdorong Pemerintah Indonesia dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dukungan Emergency Management Australia (EMA) menyelenggarakan TTX internasional. TTX itu sendiri akan berlangsung pada November 2016 dengan tema “Promoting EAS Rapid Disaster Response Toolkit as Regional Protocol in Strengthening Effective Collaborative Disaster Response and Resilience in the Region”. Pertemuan perencanaan finak ini sendiri berlangsung pada 4-5 Oktober 2016 di The Natsepa Hotel, Kota Ambon, Maluku. Berdasarkan tatanan tektonik wilayah Maluku terbagi dalam 3 rumpun tektonik dengan potensi gempa yang dapat memicu tsunami, seperti di wilayah Laut Maluku (Maluku Utara), wilayah Laut Seram, wilayah Laut Banda (Ambon dan Banda Neira, serta kepulauan di Maluku Tenggara dan Maluku Barat Daya). Wilayah Maluku yang berada pada gugusan “ring of fire” menyebabkan adanya patahan-patahan besar dan kecil yang membelah Kepulauan Maluku. Di sisi lain, zona subduksi di Samudra Hindia antara lempeng Australia dan lempeng Pasifik menyebabkan wilayah-wilayah tadi menjadi zona tektonik aktif. Kondisi ini menjadikan wilayah Provinsi Maluku sebagai wilayah rawan bencana gempabumi, terutama di wilayah-wilayah pantai yang bertopografi datar yang rawan terhadap bencana tsunami. Dari hasil kajian ahli para tsunami, 7 kabupaten/kota di Provinsi Maluku yang memilki tingkat risiko tinggi yaitu Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Halmahera Tengah, Kepulauan Sula, Halmahera Selatan, Halmahera Utara dan Kota Ambon, sedangkan tingkat 3 wilayah yaitu Buru, Seram Bagian Barat dan Halmahera Barat tingkat risiko sangat tinggi. Berdasarkan data sejarah Tsunami di Indonesia pada kurun waktu 1965 - 2016 Indonesia dilanda setidaknya 17 kali kejadian gempabumi dan tsunami dengan tsunami terbesar melanda Provinsi Aceh pada tahun 2004 dengan korban tewas yang mencapai angka lebih dari 230.000 orang. Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas

Related posts