Bimtek Wartawan Sulsel, Kita Berbagi, Kita Mengedukasi, Kita Siaga

MAKASSAR - Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali mengadakan kegiatan tahunannya yakni Bimbingan Teknis (Bimtek) Wartawan dalam Penanggulangan Bencana di Provinsi Sulawesi Selatan, 9-11 Juli 2019. Tema Bimtek tahun 2019 ini adalah Kita Berbagi, Kita Mengedukasi, Kita Siaga. 

Keunggulan wartawan dalam menyampaikan berita sebagai pengganda informasi untuk masyarakat menjadi konsentrasi penting dalam penanggulangan bencana. Selain itu media atau wartawan merupakan bagian dari Pentahelix.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Abdul Hayat Gani selaku Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Selatan. Sekda menyampaikan tema yang diusung BNPB sangat sesuai dengan keadaan di Sulsel yakni Kita Berbagi, Kita Mengedukasi, Kita Siaga. "Media sosial (medsos) sangat berperan dan strategis dalam menjangkau daerah-daerah terpencil serta untuk menambah peran media mainstream" ungkapnya.

Rita Rosita S. selaku Kepala bidang Humas BNPB menyampaikan kegiatan tahunan Humas BNPB ini tujuannya adalah meningkatkan kapasitas pengetahuan wartawan dalam penanggulangan bencana baik pra, saat dan pasca bencana. Serta meningkatkan keterampilan dasar tematik yang berguna dalam peliputan berita. Sinergi dengan media untuk membangun kesiapsiagaan bersama menghadapi bencana, khususnya di Sulsel. "Kegiatan ini diikuti 55 peserta yang tergabung dari organisasi wartawan, yaitu PWI, AJI, IJTI dan PFI. serta perwakilan dari biro humas dan protokol provinsi serta BPBD" katanya.

Wartawan senior dari AFP, Adek Berry menjelaskan dalam kelas materinya. Kelelahan menyebabkan diri kita emosi, kelelahan menyebabkan diri kita tidak konsenterasi bekerja terutama saat memotret bencana. "Jangan menanggalkan momen, karena momen bencana itu bisa menjadi sejarah. Dan Kita harus tau batas limit kemampuan kita, jika tidak akan menjadi trauma bencana untuk diri kita. Selain itu, Peralatan yg selalu ready" ucapnya.

Media memiliki peran penting dalam setiap tingkatan bencana. Media mainstream di Indonesia masih cenderung, memberitakan bencana sebagai "peristiwa". Idealnya media lebih berperan dalam literasi kebencanaan dan mendorong kesiapsiagaan.

Ahmad Arif, Jurnalis Kompas menjelaskan mendefinisikan praktik pengurangan risiko bencana ke perspektif wartawan. "Masyarakat ingatannya pendek, momentum wartawan untuk mewacanakan kembali tulisan atau berita mengenai bangunan tahan gempa atau potensi bencana di Indonesia agar masyarakat siap kembali menghadapi bencana" ungkapnya. 

Selain menghadirkan narasumber dari Harian Kompas dan AFP, pemateri lain berasal dari BMKG, BPBD Provinsi Sulsel dan Jakarta Rescue. Sementara itu, instruktur dari BNPB, BPBD provinsi dan Kota Makassar, PMI dan Tagana memfasilitasi praktek lapangan.

Kegiatan selama tiga hari ini merupakan kegiatan dalam ruangan dan di luar ruangan. Peserta menerima materi secara tematik tentang penanganan penanggulangan bencana, karakteristik bencana geologi dan hidrometerologi, jurnalisme bencana, materi sisi humanis dari sudut pandang lensa, serta basic survival peliputan berita. Materi luar ruangan, peserta akan praktik melakukan pendirian tenda, dapur umum, pertolongan pertama, trauma healing, penggunaan GPS serta penyelamatan diri di air dan evakuasi menggunakan perahu karet. 

 

Rita Rosita S.

Kepala bidang Humas BNPB

Related posts