Mulailah mengetik pada pencarian di atas dan tekan tombol kaca pembesar untuk mencari.

Lokakarya Hasil Analisis Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana di Kawasan Megathrust North Sulawesi

Dilihat 654 kali
Lokakarya Hasil Analisis Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana di Kawasan Megathrust North Sulawesi

Foto : Analis Bencana Direktorat Pengembangan Strategi PB BNPB Arsyad Iriansyah (kiri) dalam sesi foto bersama usai menyampaikan paparan dalam Lokakarya Hasil Analisis Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana di Kawasan Megathrust North Sulawesi pada Kamis (7/12) di Kota Palu, Sulawesi Tengah. (Kedeputian Bidang Sistem dan Strategi BNPB)

KOTA PALU - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana melaksanakan Lokakarya Hasil Analisis Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana di Kawasan Megathrust North Sulawesi. Hal ini dilakukan untuk membangun pemahaman potensi risiko bencana di tengah masyarakat sehingga dapat meminimalisir risiko dan membangun ketahanan daerah terhadap bencana.

Bank Dunia bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia berusaha mewujudkan pendekatan yang lebih komprehensif untuk memperkuat ketangguhan Indonesia terhadap kejadian bencana berskala besar melalui pelaksanaan program Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP). Secara umum, IDRIP bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah pusat dan daerah prioritas dalam menghadapi bencana di masa depan.

Kawasan Megathrust North Sulawesi ini meliputi dua provinsi dan empat kota/kabupaten, yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi Moutong untuk Provinsi Sulawesi Tengah serta Kabupaten Bitung untuk Provinsi Sulawesi Utara. Berdasarkan sejarah kejadiannya, kawasan Megathrust North Sulawesi tercatat beberapa kali terjadi gempa yang diikuti tsunami dalam periode 100 tahun, yang paling terakhir yaitu 28 September 2018 terjadi gempa M7,5 pada patahan Palu-Koro dengan pergerakan strike-slip memicu longsoran bawah laut sehingga menyebabkan tsunami di Teluk Palu. Gempa yang diikuti tsunami tersebut terjadi pada bagian Sulawesi Tengah pada sepanjang sesar Palu-Koro dan gempa-gempa di sekitar pulau Sulawesi Tengah.

Analis Bencana Direktorat Pengembangan Strategi PB BNPB Arsyad Iriansyah menyampaikan bahwa Indonesia merupakan wilayah dengan aktivitas kegempaan yang tinggi. 

"Selama periode tahun 1923 - 2022, telah terjadi 423 kali gempabumi merusak diikuti 41 kejadian tsunami di Indonesia. Terdapat catatan sejarah gempa dan tsunami di bagian Sulawesi tengah pada sepanjang sesar Palu–Koro dan gempa-gempa di sekitar Provinsi Sulawesi Tengah beserta lokasi episenternya dalam periode 100 tahun terakhir," tutur Arsyad, Kamis (7/12).

Kemudian Arsyad mengatakan bahwa tsunami memiliki dampak signifikan terhadap sebuah wilayah, baik dari segi korban jiwa, kerusakan, maupun kerugian ekonomi. Guna mengurangi dampaknya, diperlukan langkah penanggulangan yang dapat dimulai dari mengetahui bangkitan, rambatan, dan rendaman tsunami yang bisa didapatkan dari hasil pemodelan.

Selanjutnya, Direktorat Pengembangan Strategi PB BNPB telah melaksanakan analis pengembangan strategi PB di kawasan Banda Arc dan Molucca Sea dalam rangka pemenuhan Project Development Objective IDRIP BNPB. Pada tahun 2023, lokasi analisis diperluas ke lima kawasan megathrust tsunami di 17 kabupaten/kota untuk memenuhi target prioritas Project IDRIP.

“Hasil analisis dan rencana aksi menjadi masukan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) provinsi/kabupaten/kota serta desa untuk pengurangan risiko bencana tsunami yang nantinya diintegrasikan ke perencanaan pembangunan daerah," jelas Arsyad.

Perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah Surya Misbah Dwitama Harun, S.Hut., MM mengapresiasi kepada BNPB dan dokumen hasil yang telah diberikan dapat mendorong kesiapsiagaan pemerintah daerah. 

“Harapan kami dokumen hasil ini dapat meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah pusat dan daerah prioritas dalam menghadapi bencana di masa depan sekaligus mendorong peningkatan pengetahuan risiko, sistem pemantauan dan layanan peringatan, sistem dan kapasitas manajemen bencana serta layanan peringatan dini yang tepat waktu, akurat dan inklusif", ucap Surya.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan kementerian/lembaga, Kepala Pelaksana BPBD dan perwakilan Organisasi Pemerintah Daerah di Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Sulawesi Utara, Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong dan Kota Bitung serta perwakilan kecamatan, kelurahan/desa, Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), industri dan perguruan tinggi.


Abdul Muhari, Ph.D. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Penulis

Admin


BAGIKAN