Mulailah mengetik pada pencarian di atas dan tekan tombol kaca pembesar untuk mencari.

Hindari Penyalahgunaan, Kloroquin Digunakan dengan Resep dan Pengawasan Dokter

Dilihat 94 kali
BAGIKAN
Hindari Penyalahgunaan, Kloroquin Digunakan dengan Resep dan Pengawasan Dokter

Foto : Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid – 19 Achmad Yurianto (Ranti Komunikasi Kebencanaan)



JAKARTA – Salah satu jenis obat untuk penyembuhan medis coronavirus disease 2019 atau Covid – 19 menggunakan kloroquin. Namun, penggunaan obat tersebut harus dengan resep dan pengawasan dokter.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid – 19 Achmad Yurianto berpesan kepada masyarakat untuk tidak membeli, menyimpan dan mengkonsumsi obat tersebut tanpa surat dari dokter. Ia mengatakan bahwa kloroquin disiapkan bukan untuk upaya pencegahan. Kloroquin adalah obat keras. Penggunaan obat ini harus menggunakan resep dan mendapatkan pengawasan dokter.

“Untuk perawatan pasien di rumah sakit tidak untuk diminum sendiri di rumah,” tegas Yurianto, Senin (23/3).

Pemerintah menggunakan kloroquin karena obat tersebut berdasarkan bukti praktek medis di negara lain memberikan respons positif.

Dalam penanganan Covid-19, Gugus Tugas berharap semua fasilitas kesehatan dapat memberikan layanan terhadap pasien, termasuk dukungan alat pelindung diri (APD), kebutuhan reagen, masker dan obat.

“Sehingga kita bisa lebih efektif lagi melaksanakan layanan perawatan dan kita bisa memberikan yang terbaik untuk para warga negara kita yang sedang terkena Covid-19,” kata Yurianto.

Sementara itu, perkembangan terkini kasus Covid-19 per 23 Maret 2020, pukul 12.00 WIB, penambahan kasus positif baru berjumlah 65 orang. Total kasus positif Covid -19 berjumlah 579 orang. Kasus tertinggi berada di Provinsi DKI Jakarta dengan 353 kasus, kemudian Jawa Barat 59, Banten 56, Jawa Timur 41, Jawa Tengah 15 dan Kalimantan Timur 11. Kasus sembuh berjumlah 30 orang, sedangkan meninggal dunia 49.

Penambahan kasus juga diperoleh saat pemerintah melakukan tes cepat, meskipun lebih banyak ditemukan hasil negatif. Tes cepat merupakan salah satu strategi untuk mengidentifikasi secara cepat untuk menemukan kasus positif.

“Ditujukan adalah untuk secepatnya melaksanakan pencarian kasus positif di tengah masyarakat. Untuk saat ini, ada 125.000 pemeriksaan cepat yang akan kita bagikan ke seluruh Indonesia dan kita mulai bergerak di hari ini. Beberapa hari yang lalu sudah dilaksanakan kegiatan yang serupa dengan menggunakan metode yang sama,” kata Yurianto.

Agus Wibowo
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB


Admin

Penulis