20

2018-06

Bencana Tsunami Tahun 2004 di Aceh Bukan yang Pertama Kali

BANDA ACEH - Peneliti dari Unsyiah banda Aceh, Nazli Ismail mengatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya di Guha Ek Lenutie terungkap bahwa bencana tsunami yang menghancurkan Aceh pada tahun 2004 bukanlah yang pertama kali terjadi. Bahkan bencana dahsyat serupa sudah pernah terjadi sejak 7.400 tahun lalu. Berdasarkan penemuan goa endapan tsunami di Meunasah Lhok, Kabupaten Aceh Besar ini merupakan suatu penemuan penting untuk memperkaya kajian tsunami.  “Jejak tsunami purba itu ditemukan di Guha Ek Lenutie” kata Nazli.

Goa ini terletak di pesisir Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di Meunasah Lhok yang berjarak sekitar 48 Kilometer arah Barat Banda Aceh. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai tempat bersarangnya kelelawar dan memanfaatkan kotorannya sebagai pupuk tanaman.

Nazli Ismail dari Tsunami Disaster Migitation Research Center (TDMRC) Unsyiah yang memaparkan hasil penelitian lembaganya mengenai goa tsunami purba tersebut, pihaknya telah melakukan penggalian untuk melihat bukti sejarah tsunami sudah ada mulai dari 7400 tahun lalu, hingga kejadian di tahun 2004. Dimana terdapat endapan - endapan tanah yang berasal dari gelombang tsunami dan kotoran kelelawar yang hidup di goa.

Hal ini yang menginisiasi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk menjadikan Goa sebagai objek wisata sekaligus edukasi bencana tsunami untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat. Dalam kata lain dapat dikategorikan sebagai situs sejarah jika didalamnya terdapat informasi atau peninggalan-peninggalan tentang suatu kejadian yang dianggap memiliki nilai sejarah pada masa lampau.

Kepala pelaksana (Kalak) BPBA, Teuku Ahmad Dadek menjelaskan bahwa BPBA pihaknya telah menyurati Sekda Aceh Besar dan memberikan telaah kepada Gubernur Aceh untuk menginstruksikan kepada Pemkab Aceh Besar segera membereskan kepemilikan lahan di sekitar goa. “Penemuan goa endapan tsunami ini sangat penting untuk memperkaya kajian tsunami sehingga perlu didorong untuk pelestariannya. Aceh menjadi tempat paling bagus untuk pembelajaran tsunami dan menjadi laboraturium bencana dalam meningkatkan pencegahan dan kesiapsiagaan bencana di masyarakat.” ungkap Dadek. Diharapkan goa tsunami purba ini selain menjadi sarana edukasi juga objek wisata yang berupa  Geopark untuk pelestarian goa ini. "BPBA akan menganggarkan dana untuk mendorong kegiatan ini di Rencana Kerja Anggaran (RKA) 2019”, tambahnya.

Jejak tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 seperti Kapal PLTD Apung di Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru. Kapal Nelayan di Atas Rumah di Gampong Lampulo, Kecamatan Kuto Alam dan Helikopter Polisi di Museum Tsunami. Namun belum ada jejak tsunami yang sudah terjadi ribuan tahun lalu seperti di Guha Ek Lenutie, di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar yang baru ditemukan.

Perlunya situs sejarah yang mengajarkan dan mengingatkan kita untuk selalu senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bencana. Diharapkan edukasi bencana tidak hanya menambah pengetahuan masyarakat tetapi juga merubah sikap #SiapUntukSelamat dan perilaku masyarakat, sehingga terbentuk #BudayaSadarBencana di tengah masyarakat luas. (acu/hny/rfk).

Related posts