Bencana Hidrometerologi Masih Terus Terjadi Sampai Saat Ini

Adanya sirkulasi siklonik persisten di Samudera Hindia sebelah selatan Jawa Timur menyebabkan adanya konvergensi. BMKG menyatakan, terjadinya perlambatan kecepatan angin memanjang di Perairan Utara Aceh, Samudera Hindia Barat Daya Sumatera, Laut Jawa bagian Utara, Laut Halmahera bagian Barat menyebabkan pertumbuhan awan hujan hampir merata di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini memicu banjir, longsor dan puting beliung. Penanganan darurat puting beliung yang melanda 7 kecamatan di Aceh Timur pada Kamis (23/4) masih dilakukan. Puting beliung melanda Kec.Peureulak, Pendawa, Peurelak Barat, Darul Aman, Ranto Peureulak, Sungai Raya, dan Paureulak Timur. 231 KK/623 jiwa terdampak, 83 rumah rusak berat, 147 rumah rusak ringan, dan 2 sekolah rusak. Di Temanggung Jawa Tengah, longsor terjadi Desa Nglamuk, Kec Kaloran pada Kamis (23/4) siang menyebabkan akses jalan Temanggung-Semarang tertimbun tanah dan 5 rumah rusak. Saat yang bersamaan puting beliung juga melanda Desa Dlimuyo, Kec Ngadirejo, Kab Temanggung menyebabkan 7 rumah rusak. Sementara itu, banjir dan longsor juga terjadi di Kec Ngadirejo Kab Pacitan yang menimbulkan 10 rumah rusak dan ambrolnya tebing sungai pada Kamis (23/4). Akses jalan Pacitan-Ponorogo di Desa Gemaharjo Kec Tegalombo sempat putus total karena tertimbun longsor dan ambles. Di Kel Simpang Tiga dan Kel Tani Aman, Kec Loa Janan Ilir Kota Samarinda Kaltim banjir menggenangi ratusan rumah pada Jumat (24/4) pukul 10 Wita. Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada. Adanya anomali cuaca dalam seminggu terakhir telah menyebabkan bencana hidrometerologi masih dominan hingga awal Mei mendatang. Jangan lupa juga, bahwa bencana geologi pun selalu mengancam seperti gempa 5,4 SR pada Jumat (24/4) pukul 12.28 Wib yang terasa kuat di Bolaang Mongondow Selatan selama 3-5 detik. Tidak ada kerusakan tapi masyarakat sempat panik. Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Related posts