11 TEWAS DAN 22.830 RUMAH TERENDAM BANJIR DI BENGAWAN SOLO

11 meninggal terdiri dari 5 orang di Ngawi, 4 orang di Bojonegoro, 1 orang di Tuban, dan 1 orang di Gresik. Sebagian besar korban meninggal terseret arus laut. Banjir terparah terjadi di Kab. Bojonegoro, Prov Jatim yang menyebabkan 4 meninggal, 11.942 rumah terendam, 11 TK, 29 SD, 6 masjid, 74 mushola, 120.940 jalan terendam banjir, 3.820 hektar sawah terendam, 1.499 kambing dan dan 2.523 sapi diungsikan. Penyebab utama banjir adalah hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama di DAS Bengawan Solo.

Meskipun sudah musim transisi menuju kemarau, namun adanya anomali suhu muka air laut Indonesia di atas normal yaitu 0,7-1,3 derajat Celsius. Ditambah dengan adanya siklon tropis Victoria dan osilasi Madden-Julian maksimum sejak minggu lalu, menyebabkan pasokan uap air di atmosfer melimpah sehingga wilayah Indonesia hujan lebat. Siklon tropis Victoria sudah menjauhi Indonesia dan tidak akan memberikan dampak buruk cuaca lagi.

Selain itu, Bengawan Solo termasuk DAS kritis akibat kerusakan DAS. Penduduk di DAS Bengawan Solo terus bertambah dan tinggal di daerah rawan banjir. Tahun 1980 ada 13,5 juta jiwa, tahun 1990 menjadi 14,7 juta jiwa, dan tahun  2005 ada 17,5 juta jiwa. Tutupan hutan hanya 13,6% dari luas DAS. Erosi tanah mencapai 3,14 mm/tahun yang melebihi erosi yang ditoleransikan. Kondisi ini mendukung banjir setiap tahun di Bengawan Solo.
 
Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Related posts