BNPB Pelajari ICS dalam Upaya Peningkatan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana

SENTUL – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dengan mitra kerja lain mendapatkan pengetahuan mengenai Incident Command System dari Departemen Kehutanan Amerika Serikat (USFS), dengan dukungan USAID, dalam program Training of Trainers. Program ini merupakan upaya BNPB untuk mengenalkan Incident Command System (ICS) dan mencetak master trainer. Master trainer ini nantinya mengenalkan pengetahuan ICS kepada mitra kerja BNPB di daerah, mengingat Incident Command System merupakan konsep manajemen yang teruji efektif untuk pengelolaan insiden di tataran taktis operasional.

BNPB dan mitra kerja di daerah, khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten dan kota dapat memperkuat sistem penanganan darurat bencana melalui adaptasi pengetahuan ICS. Dalam menghasilkan master trainer, BNPB melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana (Pusdiklat PB) BNPB mengundang peserta tidak hanya dari BNPB tetapi juga BPBD Propinsi dan Kabupaten/Kota, TNI, Polri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan dunia usaha. 

Pada acara pembukaan, Kepala Bidang Program Pusdiklat PB BNPB Afrial Rosya menyampaikan bahwa pemahaman dan pengetahuan ICS dapat memperkuat sistem komando tanggap darurat di Indonesia. 

“BNPB dapat mengadaptasikan ICS tersebut sesuai dengan konteks penanggulangan bencana di Indonesia, “ kata Afrial pada pembukaan Pelatihan Training of Trainer ICS pada Selasa (25/4) di InaDRTG, Sentul, Jawa Barat.

Sementara itu, Fasilitator USFS Rusty Witwer mengatakan bahwa penerapan ICS sangat bermanfaat dalam setiap penanganan insiden. Di samping itu, ICS mampu untuk mengefektifkan penanganan insiden yang akuntabel.

“ICS telah diadopsi oleh beberapa negara seperti Australia, Selandia Baru serta negara-negara di Asia bahkan AHA Centre di kawasan regional Asia Tenggara akan mengadopsi ICS,” ujar Rusty, praktisi dan instruktur yang telah puluhan tahun terlibat dalam pengembangan ICS di Amerika Serikat. 

Di sisi lain, “Melalui pelatihan ini, saya mengharapkan pengetahuan ICS dapat diadaptasi untuk pengembangan sistem komando tanggap darurat yang sudah ada dan tentunya disesuaikan dengan konteks di Indonesia,” kata Gabriel P. Sigit, Kepala Seksi Prasarana Ekonomi BNPB, yang sedang mengikuti Training of Trainers Integrated Planning Process. 

Program pelatihan ICS ini, yang dimulai sejak tahun 2012, merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas kesiapsiagaan yang dilakukan secara berulang-ulang, tetap dan teratur layaknya sebuah siklus. Dalam siklus kesiapsiagaan, terdapat beberapa komponen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelatihan dan latihan, evaluasi dan tindakan perbaikan.

Tahun 2017 ini, BNPB telah menyelenggarakan pelatihan Training of Trainers dengan materi Basic and Intermediate bagi 61 peserta dan Integrated Planning Process bagi 25 peserta dari BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan Unit Pemadam Kebakaran dari dunia usaha.  

ICS merupakan konsep manajemen untuk segala jenis insiden yang terstandar dan dilakukan di lokasi kejadian. ICS juga memberi ruang bagi berbagai pihak untuk membangun proses perencanaan dan manajemen sumber daya secara terpadu.

Dilatarbelakangi insiden kebakaran hutan yang meluas di perkotaan di California, USFS mengembangkan ICS ini sejak tahun 1970an hingga saat ini. Berdasarkan kebijakan Presidential Directive 5 “Management of Domestic Incidents” yang dikeluarkan setelah terjadi peristiwa 9/11, seluruh departemen dan institusi Federal diwajibkan untuk mengadopsi National Incident Management System (NIMS). ICS merupakan salah satu komponen dari NIMS tersebut dan sejak tahun 2005, adopsi ICS menjadi bagian dari persyaratan bagi State (negara bagian), tribal maupun organisasi lokal yang meminta dukungan/bantuan kesiapsiagaan dari Federal.

Sutopo Purwo Nugroho

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas

Related posts