|
Kamis, 17/04/2008 10:20:53 |
|
Sampai dengan hari Rabu, 16 April 2008 pukul 10.00 WIB, sebanyak 600 orang pengungsi yang berasal dari Dusun Baokrenget, Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara yang berada di lereng Gunung Egon, telah berangsur kembali ke rumah masing-masing pada siang harinya.
Gunung Egon di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur meletus
pada hari Selasa, 15 April 2008 sekitar pukul 21.00 WIB. Gunung
setinggi 1.703 meter dari pemukaan laut itu mengeluarkan asap dan abu
yang cukup banyak. Tinggi letusan mencapai ± 4.000 meter dari kawah
Gunung Egon. Sebaran abunya tampak condong ke arah Barat laut dan telah
mencapai Kota Maumere yang berjarak ± 20 km dari Gunung Egon.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan status kegiatan Gunung Egon dinaikkan menjadi "SIAGA" (level III) sejak tanggal 15 April 2008 pukul 23.00 WIB.
Sehubungan dengan hal tersebut, disarankan masyarakat di sekitar Gunung Egon tetap tetang, tidak terpancing isu-isu, dan senantiasa mengikuti arahan dari Satlak PB Kab. Sikka dan Satkorlak PB Prov. NTT.
Desa Egon Gahar berjarak sekitar 1,8 Km dan berhadapan dengan bukaan Kawah Gunung Egon. Karena sistem Gunung Egon telah terbuka dan sering meletus, maka desa tersebut akan selalu beresiko terancam letusan Gunung Egon, sehingga penduduknya perlu direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Letusan Gunung Egon menghasilkan abu vulkanik yang tersebar ke arah Barat - Baratlaut hingga Kota Maumere. Oleh karena itu penduduk yang beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker penutup hidung, mulut dan mata.
Karena ketinggian asap letusan Gunung Egon mencapai ± 4.000 meter, maka aktivitas bandara Waioti, Maumere, harus waspada terhadap keselamatan jalur penerbangan sekitar Gunung Egon.
Lakhar Bakornas PB akan mengirimkan tim kajian cepat untuk memantau perkembangan di lokasi bencana, dengan membawa bantuan masker sebanyak 50 dus (600 buah).
Sumber : Laporan Harian Posko, Rabu 16 April 2008
|